Kamis, 03 April 2014

TAWAKKAL, IKHTIYAR, SABAR, SYUKUR DAN QONA’AH,



BAB I
PENDHULUAN

Manusia sebagai ciptaan allah tentu mempunyai banyak kebutuhan dan kepentingan dalam kehidupannya sehari-hari guna menjaga kelangsungan hidupnya dan gambaran masa depannya. Oleh karena itulah manusia disuruh terus untuk selalu berusaha. Namun disamping itu usha belum menjanjikan semuanya, makanya perlu pulalah sifat tawakkal yang menyerahkan segala urusan itu kembali kepada allah.
Jika terjadi sesuatu diluar rencana, maka disitulah fungsi dari sifat sabar. Namun jika kenikmatan melimpahi hidup kita, itulah peran rasa syukur dihati kita. Serta disamping itu, kita juga perlu Qona’ah ataupun merasa cukup apa yang ada sesudah berusaha agar tidak terjerumus kepada sifat tamak yang sangat melalaikan.
Karna itulah, kami dari kelompok tujuh juga sebagai melengkapi tugas mata kuliah semester V akan mencoba membahas dan membuat makalah yang akan membahas TAWAKKAL, IKHTIYAR, SABAR, SYUKUR DAN QONA’AH, berkaitan Tentang PENGERTIAN, DALIL-DALIL dan KAITAN masing-masing.
Ucapan terima kasih pemakalah disampaikan kepada bapak dosen pembimbing sekaligus kepada kawan-kawan semua pada mata kuliah yang sama.
Terima kasih

Penulis




BAB II.
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN
1.      Tawakkal
Tawakkal adalah menyerahkan segala urusannya kepeda allah setelah dia melakukan usaha, sebagaimana dalam Firman Allah  واذا كسبت فتوكل  على اللهapabila engkau telah melakukan usaha, maka bertawakkallah (serahkanlah urusannya)kepada allah.
Tawakkal adalah perilaku terpuji, sebab, dengan tawakkal, maka manusia akan lebih mengetahui identitas dirinya sebagai hamba allah yang selalu bergantung dan mengharap rahmatnya Allah di setiap detiki kehidupannya.
Dengan tawakkal, bukan berarti kita menyerahkan segala urusan kita kepada allah dengan begitu saja, namun disamping itu kita juga harus berusaha untuk menyelesaikan urusan tersebut, namun kemudian menyerahkannya kepada ketentuan allah.
Hatim Al-Ashom: Tawakkal terbagi empat: pertama: tawakkal atas makhluk, Kedua: tawakkal atas harta, Ketiga: Tawakkal atas diri, Keempat: Tawakkal atas tuhan.[1]
2.        Ikhtiyar
Ikhtiyar dalam artian kata adalah berusaha, artinya berusaha untuk mencari penghidupan didunia, ataupun berusaha untuk keluar dari segala masalah kehidupan yang kita lalui. Sebab hidup dalam berpangku tangan saja sangat dicela oleh agama, bahkan Rasulullahpun terus menganjurkan ummatnya untuk tetap terus berusaha untuk kehidupannya didunia ini. Salah satunya adalah sabda Rasulullah:
يد العلي خير من يد السفلى
            Artinya: tangan diatas lebih baik daripada tanganyang dibawah
Maksud dari hadits diatas adalah, memberi lebih baik daripada nmenerima, artinya agar kita dapat memberi adalah dengan berusaha, bukan dengan berpangku tangan. Sesuai pula dengan sebuah Atsarnya Sayyidina Umar disaat melihat seorang laki-laki yang hanya berdo’a saja kepada allah agar allah memberi rizqi padanyta, lantas beliau berkata: ان السمأ لا يمطر الذهب والفضة  sesungguhnya langit itu takkan pernah menghujankan emas dan perak” arti dari perkataan ini adalah berusaha bukan berpangku tangan.
3.      Sabar
Sabar dalam artian kata adalah menahan diri, maksudnya mampu menahan diri disaat ia sanggup melakukan hal tersebut, sebagai contoh; misalkan seseorang dianiaya orang lain, kemudian dia tetap sabar dan tidak membalas, padahal jika dia mau dia sanggup untuk membalasnya.
Dalam Alqur’an Allah mendefenisikan sabar sebagai; orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka lalu mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji’in”[2]
4.        Syukur
Syukur dalam artian bahasa adalah berterima kasih, juga, Syukur adalah salah satu sifat yang merupakan hasil refleksi dari sikap tawakal. Secara bahasa, syukur mengandung arti “sesuatu yang menunjukan kebaikan dan penyebarannya”. Sedangkan secara syar’i, pengertian syukur adalah “memberikan pujian kepada yang memberikan segala bentuk kenikmatan (Allah swt) dengan cara melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, dalam pengertian tunduk dan berserah diri hanya kepada-Nya”. Menurut artian lain juga disebutkan bahwa syukur adalah: keadaan seorang mempergunakan nikmat yang diberikan oleh allah itu kepada kebajikan.[3]
Imam Al-Ghazali mengungkapkan dua manfaat syukur, yaitu;
1.      Agar kekal kenikmatan yang sangatbsar itu, sebab, jika tidak disyukuri, akan hilang
2.      Agar nikmat yang kita dapatkan bertambah[4]
Hal ini sesuai dengan  firman allah dalam alqur’an
ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ  
Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Q.S. Ibrahim:7)[5]
5.        Qona’ah
Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. Ulama Menyebutkan
ما سبقت اعصان ذلٍّ الا على بذر طمع
Maksudnya: Kehinaan tidak akan berkembang biak menjadi cabang-cabang kecuali pangkalnya dari bibit tamak.[6] Sebagaimana disebutkan dalam atsar, Tsabit Radiyallohu Anhu bercerita:
اخرج الينا انس بن مالك قدح حسبٍ غتيظا مضببا بحديد, فقال: يا ثابت, هذا قدح رسول الله صل الله عليه وسلم.
Maksudnya: Anas bin malik memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu, tempat minuman itu tebal dan dililit deringan besi, kemudian anas menerangkan: hai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah shalatullohi alaihi wasallam.[7]
Abdullah bin Amru r.a. berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya”. (H.R.Muslim)


B.     DALIL-DALIL
1.     Tawakkal
øŒÎ) M£Jyd Èb$tGxÿͬ!$©Û öNà6YÏB br& Ÿxt±øÿs? ª!$#ur $uKåkŽÏ9ur 3 n?tãur «!$# È@©.uqtGuŠù=sù tbqãYÏB÷sßJø9$# ÇÊËËÈ  
Artinya: ketika dua golongan dari padamuingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.(Q.S. Al-Imran: 122)
tA$s% ÈbŸxã_u z`ÏB tûïÏ%©!$# šcqèù$sƒs zNyè÷Rr& ª!$# $yJÍköŽn=tã (#qè=äz÷Š$# ãNÍköŽn=tã šU$t6ø9$# #sŒÎ*sù çnqßJçGù=yzyŠ öNä3¯RÎ*sù tbqç7Î=»xî 4 n?tãur «!$# (#þqè=©.uqtGsù bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇËÌÈ  

Artinya: berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".(Q.S. Al-Maidah: 22)
2.      Ikhtiyar
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ  

Artinya: apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Jum(Q.S. Al-Jumu’ah: 10)
                                                          
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£s% 7tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ  
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Juga dalam sebuah Hadits
كان ابن عمر يقول: اذا امسيت فلا تنتطر الصباح واذا اصبحت فلا تنتطى المساء وخذ من صحتك لسقمك ومن حياتك لموتك ( أخردجه البخارى)[8]
Maksudnya: adalah ibn umar berkata: apabila kamu sudah sampai diwaktu sore, maka jangan tunggu pagi hari, dan apabila kamu sudah dipagi hari, maka jangan tunggui waktu sore, dan lakukanlah pada waktu sehatmu sebelum sakitmu, juga hidupmu sebelum matimu.
3.      Sabar
$ygƒr'¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãYÏètGó$# ÎŽö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÌÈ  
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqoroh: 153)
÷ŽÉ9ô¹$#ur $tBur x8çŽö9|¹ žwÎ) «!$$Î/ 4 Ÿwur ÷btøtrB óOÎgøŠn=tæ Ÿwur ہs? Îû 9,øŠ|Ê $£JÏiB šcrãà6ôJtƒ Artinya: bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (Q.S. Annahl: 127)

4.      Syukur
øŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ  
Artinya: dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Q.S. ibrahim: 153)

(#qè=ä3sù $£JÏB ãNà6s%yu ª!$# Wx»n=ym $Y7ÍhsÛ (#rãà6ô©$#ur |MyJ÷èÏR «!$# bÎ) óOçFZä. çn$­ƒÎ) tbrßç7÷ès?  
Artinya:  Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. ".(Q.S. Annhl: 114)

5.      Qana’ah
$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xsB 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 ÌôfuZyur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ  
Artinya: sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[9]                                                                     
C.     HUBUNGAN
Setiap orang menginginkan ketentraman hidup. Ketentraman hidup hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap harta dan dunia sekecil dan sebesar apa pun yang dimilikinya. Qana’ah dan syukur adalah dua sikap yang tak mungkin dipisah. Orang yang qana’ah hidupnya senantiasa bersyukur. Makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan qana’ah dan syukur. Sebab, pada saat seperti itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada di hadapannya. Justru, ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya.
Meski demikian, orang-orang yang memiliki sikap qana’ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang hidup qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah SWT. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qana’ah-nya dan mempertebal rasa syukurnya.
Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang qana’ah menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong, dan mengurangi timbangan. Ia yakin, tanpa menghalalkan segala cara pun, ia tetap akan mendapatkan rezeki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari, akhir rezeki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal: menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala di hadapan Allah. Karenanya, ia pun lebih mementingkan seruan Rabbnya.
Namun, jika sampai pada keadaan demikian, ia tidak lantas terbius pada kenikmatan berkhalwat dengan Allah seraya melupakan dunia. Ia menyadari, masih ada aturan Allah yang mewajibkannya untuk beraktivitas kembali..
Niat yang lahir dari hati orang-orang yang qana’ah ketika melakukan aktivitas pencarian dunia bukan didasarkan pada penumpukan kekayaan untuk ia nikmati sendiri, namun benar-benar didasarkan pada ibadah. Orang-orang qana’ah akan mencari harta dan dunia untuk membekali dirinya agar lebih kuat dalam beribadah. Ia akan berpikir, Allah lebih mencintai Mukmin yang kuat dibanding Mukmin yang lemah.
Kekayaan dunia yang ia cari, bukan dijadikan sarana memyombongkan diri. Tapi, dimaksudkan untuk menafkahi keluarganya agar tidak jatuh pada jurang kefakiran. Hartanya ia gunakan untuk menyantuni orang lain dan agar tidak membebani orang lain ketika Allah menimpakan kesulitan kepada dirinya. Ia akan terus teringat, kefakiran dapat mendekatkan diri pada kekufuran.
Niat orang-orang qana’ah ketika mencari harta juga didasarkan pada keharusannya menguasai ilmu pengetahuan. Ia tidak akan pernah merasa sayang dengan harta dan dunia sepanjang ia menggunakannya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Ia yakin, hanya dengan memiliki ilmu ia dan keluarganya akan merasa tentram dalam beribadah dan bermuamalah.
Di tengah ancaman badai musibah yang kini terus mendera, sungguh sikap qana’ah dan syukur amat penting. Orang yang mampu bersikap qana’ah akan meletakkan harta dan dunia di tangan, bukan di hati. Ia akan berprinsip bahwa kekayaannya semata titipan Allah. Jika suatu saat diambil, ia takkan merasa rugi. Toh, semua yang dimilikinya adalah titipan. Prinsip inilah yang mampu membuat jiwa tentram dan nyaman meski gelombang petaka datang menerpa.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang qana’ah menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong, dan mengurangi timbangan. Ia yakin, tanpa menghalalkan segala cara pun, ia tetap akan mendapatkan rezeki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari, akhir rezeki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal: menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala di hadapan Allah. Karenanya, ia pun lebih mementingkan seruan Rabbnya.
sifat serakah dan tamak. Ulama Menyebutkan
ما سبقت اعصان ذلٍّ الا على بذر طمع
Maksudnya: Kehinaan tidak akan berkembang biak menjadi cabang-cabang kecuali pangkalnya dari bibit tamak
B.     SARAN
Saudaraku seakidah, marilah sama-sama kita memperbaiki hati serta tauhid kita, serta memperbanyak ibadah dan istiqomah didalamnya, serta membuang sifat bermalas-malasan, sesudah itu mentwakkalkan semuanya kepada allah, dan sabar atas setiap kekurangan, serta syukur setiap nikmat, dan qonaahlah di setiap pemberian allah.



AFTAR PUSTAKA
Al-Iskandari . Ahmad Ibn Athaillah, Syarhu Al-Hikam, Alihbahasa: Fatihuddin Abul Yasin, (Surabaya: Penerbit Terbit Terang).
Al-Ghazali. Imam,  Minhajul Abidin. terjemah abul hiyadh, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2009).
Al-Khoubawi. Utsman, Durotunnasihin, (Bandung: Syirkatul Ma’arif).
Depertemen agama, Qur’an dan Terjamahnya, (Surakarta: CV Al-Hanan)
Hajar. Ibn, Bulugul Maram, (Surabaya: Penerbit Bintang Usaha Jaya).
Muhammad Bin Isa, Asy-Syama’ilu Al-Hamidiyah,alih bahasa: M.Tarsyi Hawi, (Diponegoro: CV. Penerbit Diponegoro)
Zahri .Mustafa, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: PT Bina Ilmu).



[1] Utsman Al-Khoubawi, Durotunnasihin, (Bandung: Syirkatul Ma’arif) hal. 94
[2] Terjemah Ayat Alqur’an Surah Al-Baqoroh 156
[3] Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: PT Bina Ilmu) hal. 59
[4] Imam Al-Ghazali,  Minhajul Abidin. terjemah abul hiyadh, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2009) hal. 335
[5] Depertemen agama, Qur’an dan Terjamahnya, (Surakarta: CV Al-Hanan)
[6] Ahmad Ibn Athaillah Al-Iskandari, Syarhu Al-Hikam, Alihbahasa: Fatihuddin Abul Yasin, (Surabaya: Penerbit Terbit Terang), hal. 94
[7] Muhammad Bin Isa, Asy-Syama’ilu Al-Hamidiyah,alih bahasa: M.Tarsyi Hawi, (Diponegoro: CV. Penerbit Diponegoro), hal. 155
[8] Ibn Hajar, Bulugul Maram, (Surabaya: Penerbit Bintang Usaha Jaya), hal. 604
[9] Depertemen agama, Qur’an dan Terjamahnya, (Surakarta: CV Al-Hanan)

1 komentar:

  1. Sudah bagus tetapi tolong sebaiknya kasih contoh nya,terimakasih semoga sukses

    BalasHapus