Semua Berawal Dari Sini

Saat semuanya terasa lebih baik, kitapun kan sadar bahwa sebenarnya kita terlahir dari kesederhanaan, hanya saja kita punya keinginan dan usaha yang kuat untuk meraih semuanya.

Good Luck and Succes

Ahd.Gozali, S.Pd.I Wisuda Sarjana tercepat dan terbaik dua, 2015, dengan IPK 3.81 Yudisium: Cum Laude, Semoga ini menjadi batu loncatan untuk mendapatkan Bea Siswa Megister di Perguruan Tinggi Terkemuka baik di dalam maupun Luar Negeri, Doain Sahabat.

Sedang Mencari Beasiswa S2

Ahd.Gozali, S.Pd.I Wisuda Sarjana tercepat dan terbaik dua, 2015, dengan IPK 3.81 Yudisium: Cum Laude, Semoga ini menjadi batu loncatan untuk mendapatkan Bea Siswa Megister di Perguruan Tinggi Terkemuka baik di dalam maupun Luar Negeri, Doain Sahabat.

Kritik Pendidikan

Pendidikan semestinya dapat mengubah nasib bangsa dan menciptakan generasi yang berkualitas dilengkapi dengan berbagai skill dan penuh tanggung jawab dalam seluruh tingkah kehidupannya. Mari sama-sama membangun pendidikan yang berkualitas di Bumi Indonesia tercinta ini.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 31 Mei 2014

KAJIAN ISRA' MI'RAJ MELALUI PENDEKATAN SAINS DAN TEKHNOLOGI

Isra mi’raj meupakan kajian yang tidak pernah henti-hentinya dibahas oleh ummat manusia, tidak saja ummat Islam di seluruh dunia, tapi juga orang Barat, orang non muslim, dan orang-orang yang tidak dan/atau kurang mempercayainya. Peristiwa isra’ Mi’raj adalah perjalanan Imani yang hanya dapat diterima secara utuh melalui pendekatan Keimanan. Namun, hal ini takkan mampu menjawab pertanyaan Orientalis Barat dan orang-orang yang meragukannya kecuai jika dilakukan dengan pendekatan ilmiah melalui kacamata Sains dan Tekhnologi mutakhir.
anda dapat mempertebal keimanan dan keyakinan anda terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut melalui beberapa selide ini. Yang seluruh kajiannya berpusat pada sudut pandang teknologi.
Jika saudara mengingikannya, silahkan klik Link dibawah ini


Cara Download melalui via IDM
Terkadang ada file ZIDDU yang tidak bisa di download melalui via IDM, itu terjadi karena ketidak sesuaian file tersebut dengan fitur yang disediakan oleh IDM saudara. jangan cemas, saudara akan tetap bisa download dengan mengikuti langkah berikut.

1. Buka IDM saudara
2. Pilih Opsi/Setting
3. Pilih Umum/General
4. Hilangkan Centang pada Firefox atau pada Google Chroma (sesuai internet search yang anda gunakan saat itu)
5. Klik OK/Aply
6. Ucapkan Alhamdulillah.
7. Klik Link di atas.
8. Ikuti petunjuk Ziddu.Com. dan masukkan Password-nya, lalu Klik Download.
9. Tunggu hingga selesai.
10. Baca Petunjuk pada File yang disediakan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
11. Buka File-nya dan pelajari sesuai keperluan. 
12. Buka kembali IDM anda seperti langkah di atas, dan centang kembali pada browsur semula jika saudara menginginkannya.

Selasa, 13 Mei 2014

TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN ISLAM (dari Klasik ke Modren)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang sangat ideal, Pendidikan islam index (2)tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan terus menerus pasca generasi Nabi, sehingga dalam perjalanan selanjutnya, pendidikan islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum maupun dari segi lembaga pendidikan islam yang dimaksud.
Penelitian merupakan salah satu cara melakuakan usaha-usaha perbaikan dan pembaharuan. Ilmu tidak akan bertambah maju jika tanpa adanya penelitian dan pembaharuan. Upaya penelitian

Senin, 12 Mei 2014

INOVASI KURIKULUM KBK dan KBM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Rumusan Masalah
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses 882675054-kurikulum1pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri, pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan berlangsung dengan berbarengan.
Berbicara tentang proses pendidikan sudah tentu tidak dapat dipisahkan dengan semua upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan manusia yang berkualitas itu, dilihat dari segi pendidikan. Telah terkandung secara jelas dalam tujuan pendidiakn nasional.

BIMBINGAN KONSELING DAN KONSELING AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di counselor1Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
Sejalan dengan dinamika kehidupan, kebutuhan akan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada lingkungan persekolahan, saat ini sedang dikembangkan pula pelayanan bimbingan dan konseling dalam setting yang lebih luas, seperti dalam keluarga, bisnis dan masyarakat luas lainnya, yang kesemuanya itu membawa konsekwensi tersendiri bagi

PROBLEMATIKA DAN TANTANGAN PENDIS DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya Islam ke alkausar-boarding-school-20130612092533Indonesia. Dimana peranan para pedagang dan mubaligh sangat besar andilnya dalam proses Islamisasi di Indonesia. Salah satu jalur proses Islamisasi itu adalah pendidikan. Pendidikan Islam di Indonesia mengikuti masa dan dinamika perkembangan kaum muslimin. Dalam suatu komunitas muslim, maka terdapat tingkat aktivitas pendidikan Islam yang dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi.
Mengetahui sejarah dari pendidikan Islam itu sendiri adalah sangat penting terutama di Indonesia, termasuk bagi para praktisi pendidikan. Dengan mempelajari sejarah masa lampau, umat Islam

INOVASI MANAJEMEN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Kemajuan suat bangsa sangat dipengaruhi oleh kualiutas SDM (Sumber Manajemen TedyDaya Manusia) masyarakat bangsa tersebut. Kualitas SDM tergantung pada tingkat pendidikan masing-masing individu pembentuk bangsa. Pendidikan yang visioner, memiliki misi yang jelas akan menghasilkan keluaran yang berkualitas. Berangkat dari sanalah manajemen disarankan penting untuk diterapkan dalam pendidikan. Manajemen untuk saat ini merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan sehingga menghasilkan keluaran yang diharapkan.

PANDANGAN ISLAM TERHADAP INSEMINASI dan BAYI TABUNG

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tujuan dari perkawinan adalah untuk memperoleh anak dan bayi_tabung12keturunan yang sah dan bersih nasabnya, yang dihasilkan dengan cara yang wajar dari pasangan suami istri.
Namun tidak semua pasangan suami istri bisa mempunyai keturunan sebagaimana yang diharapkan karena ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang istri tidak dapat mengandung, baik yang datang dari pihak suami maupun istri itu sendiri.
Akan tetapi pada zaman sekarang ini para ilmuan telah menemukan suatu cara untuk medapatkan keturunan dari pasangan suami istri yang mengalami mandul, yaitu dengan menggunakan teknologi

KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS dan MEMBUAT OBSERVASI

KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Manajemen kelas merupakan berbagai jenis kegiatan yang dengan sains-topik-dayasengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Manajemen kelas sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.

KETERAMPILAN MENGATUR TEMPAT DUDUK DAN MEMBUKA PELAJARAN

KATA PENGANTAR
بسم الله الحمن الرحيم
Penguasaan dan pengondisian kelas merupakan berbagai jenis kegiatan image_thumbyang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Pengaturan tempat duduk siswa sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.

KONSEP PEMBELAJARAN SKI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Penulisan
Pendidikan merupakan aktivitas yang akan selalu terjadi dan terus berputar 9404642sesuai dengan kebutuhan manusia pada saat itu, dan pendidikan bukan lah suatu ketentuan yang sudah permanen, namun akan tetap selalu berubah sesuai dengan zaman dan teknologi yang diberdayakan pada saat itu. Berbagai ilmu yang mesti terus dikembangkan dan tidak boleh dilupakan, mulai dari yang bersifat sederhana hingga kepada tingkatan yang sangat kompleks.
Ilmu sejarah merupakan bagian dari berbagai cabang ilmu yang mesti dipelajari oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi umat manusia. Ilmu sejarah senantiasa menarik minat orang banyak. Orang-orang biasa dan orang-orang yang tidak pintar juga ingin mengetahuinya, karena sebab inilah, maka perlu disusun sebuah konsep yang mendasari ilmu sejarah tersebut, serta cara mengajarkan dan menularkan pengetahuan itu kepada orang yang membutuhkannya, terutama dibidang Sejarah Kebudayaan Islam, yang merupakan

INOVASI KURIKULUM 2013 DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC

KATA PENGANTAR
Dengan Ucapan Syukur Kehadirat NYA.Mengawali Penulisan Makalah ini Green glowpenulis melihat Dewasa ini Pendidikan Islam Khususnya telah menemukan berbagai hal dan rintangan yang dihadapi, Terdapat sejumblah landasan pemikiran yang akan penulis sampaikan sebagai Pengantar penulisan makalah ini ,diantaranya :
Pertama,dalam pembicaraan studi “Ilmu Pendidikan Islam”bahwasanya hal ini merupakan terobosan suatu yang baru dan datang baru .ilmu ini juga muncul pada abad ke -20 yaitu pada saat pemikiran tentang perlunya meningkatkan dan pengembangan mutu pendidikan islam dengan berbagai aspeknya, yang salah satunya aspek evaluasi yang akan penulis bahas pada pembahasan ini nantinya.
Kedua ,awal tahun 2000- an ,penelitian terhadap ilmu pendidikan islam dengan berbagai aspeknya mulai dilakukan para ahli .hasil penelitian tersebut baspek –aspek yang ada dalam pendidikan islam itu sendiri khususnya pembicaraan masalah landasan pokok dan sebagai pijakan adalah Al-Qur’an dan Hadits .
Ketiga, hingga saat ini masih ada kerancuan dan kekacaun yang ada dalam melihat dasar pemikiran dan konsep yaang mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pendidikan islam ,yaitu proses penerapan dan proses yang ada pada sebuah teori.
Simpang Empat, 20, Februari 2014
20, R. Akhir 1435 H
Penulis Kelompok 09
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Pembahasan Penulis yang sesuai dengan Silabus yang penulis terima bahwa pembicaraan berfokus pada sebuah masalah pendidikan islam yaitu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan pada hari ini masih terjadi berbagai kekacauan dan ketidak sesuaian di lapangan. hal ini disebabkan karena pendidikan di Indonesia belum terencana dengan baik terkonsepkan atau belum terdesain dengan baik. berbagai lembaga pendidikan islam yang menyelenggarakan pendidikan secara umum nya, untuk itu perlu adanya Inovasi yang prospeknya serta pengambilan perubahan paradigma pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tersebut yang pada umumnya terjadi kesenjangan dan tidak kesesuaian dengan teori-teori yang ada. hal inilah yang akan penulis bahas untuk mengantisifasi ini maka perlu memahami secara utuh kebijakan pemerintah yang salah satunya kebijakan yang berhubungan dengan kurikulum terbaru,itu itu perlu dilihat dengan salah satu konsep kurikulum Kurikulum 2013 Dengan Pendekatan Scientific”.
B.   RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan latar belakang dapat diketahui bahwa kurikulum adalah sesuatu yang mesti disusun dengan baik agar tujuan pendidikan nasional itu dapat dicapai dengan mudah oleh seluruh anak bangsa. Terkhusus pada tulisan ini, penulis hanya akan membahas tentang kurikulum 2013, yang berkaitan tentang:
1. Aspek Perubahan Kurikulum 2013
2. Kurikulum 2013 dengan pendekatan scientifik
Kedua bahasan tersebut diharapkan akan memperdalam pengetahuan kita dalam bidang kurikulum yang saat ini diarahkan dan digiatkan untuk mengaplikasikannya di setiap sekolah-sekolah di Indonesia.
C.   TUJUAN PENULISAN
1. Makalah ini sebagai wujud mempersiapkan pembelajaran bagi pendidikan agama islam yaitu para Mahasiswa Jurusan Tarbiyah pada STAI -YAPTIP ,
2. Agar Guru dan para politikus pendidikan memahami arti konsep PAI dalam lingkup inovasi dan prospektif pendidikan yang diharapkan adanya pemikiran dan perubahan inovatif agar tetap digarda depan perubahan.
3. Agar sumber daya manusia nya dipersiapkan untuk selalu siap dengan kondisi yang semakin menglobal dan sarat dengan tantangan sebagai langkah awal Untuk selalu mengimbangi antara IPTEK dengan SDM
4. Memenuhi tugas kelompok perkuliahan MK Inovasi dan Prospektif Pendidikan Dosen c.Dr.PARIADI,S.Pd.,M.Pd.
BAB II
PEMBAHASAN
ASPEK PERUBAHAN KURIKULUM 2013
A. Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum pertama kali dipakai pada dunia olahraga pada zaman Yunani Kuno yang berasal dari kata curir atau curere. Saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari.[1]
Kurikulum merupakan pedoman, terutama bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Kurikulum bersifat dinamis dan karenanya selalu disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat dan siswa itu sendiri serta teori-teori belajar mengajar.[2]
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.[3]
Kurikulum menurut pengertian modern adalah segala pengalaman dan kegiatan pembelajaran yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh para siswa agar mencapai tujuan, dan merupakan keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar. Baik berlangsung di kelas maupun di luar sekolah.[4]
Oemar Hamalik (2013: 17) kurikulum adalah suatu perogram pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.[5]
B. Landasan Perubahan Kurikulum 2013
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. Hal ini dilandasi beberapa alasan, antara lain:
1. Guru yang selama ini bertugas menjadi pendidik ternyata tidak mampu membuat kurikulum sendiri sehingga KTSP tidak berjalan sempurna.
2. Sejak tahun 1984 aspek pembelajaran di sekolah lebih didominasi oleh aspek kognitif. Sedangkan aspek afektif dan psikomotorik dilupakan.
3. Pendidikan yang dijalankan di Indonesia selama ini lebih ditekankan pada  ilmu (study) bukan belajar (learn). Oleh karena itu, pendidikan karakter kebangsaan menjadi terabaikan.[6]
Pada kurikulum 2013 ini nantinya akan memunculkan 3 jenjang kurikulum, yakni:
1. Kurikulum tingkat nasional yang disosialisasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
2. Kurikulum daerah yang disosialisasikan oleh setiap daerah. Dalam hal ini pendidikan muatan local tetap dijalankan.
3. Kurikulum yayasan, misalnya yayasan PGRI, Muhamadiyah, Tamansiswa dan lain-lain. Kurikulum yayasan ini sifatnya tidak memaksa, artinya boleh dijalankan boleh tidak.[7]
Dalam kurikulum 2013 ini pendidikan karakter kebangsaan yang selama ini terbaikan akan dimunculkan kembali di setiap matapelajaran. Sehingga semua guru harus mampu mengintegrasikan pendidikan karakter kebangsaan ini pada mata pelajaran yang diampunya.  Kurikulum 2013 “memaksa” guru untuk memiliki kompetensi pedagogic berbasis TIK sehingga pembelajaran di sekolah menjadi lebih menyenangkan.
Para ahli menyampaikan bahwa “Melalui kurikulum 2013 semua potensi peserta didik akan dikembangkan.” Misalnya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, sosial maupun kecerdasan spiritual. Dengan kurikulum baru ini peserta didik tidak hanya mendapatkan pendidikan dari aspek kognitif saja, namun juga akan mendapatkan aspek afektif dan psikomotorik.
Pengembangan kurikulum 2013 yang bertemakan dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi, menjadi motivasi perubahan kurikulum tersebut. Inti dari kurikulum 2013, ada upaya penyederhanaan dan tematik-integratif.[8]
Gambaran umum konsep inti Kurikulum 2013[9] diantaranya :
o Bahwa Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi
o Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”.
o Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
o Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
o Dimana hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, (Observing) menanya (Questioning), menalar (Associating) , mencoba (Experimenting) membentuk jejaring (Networking) untuk semua mata pelajaran.
Dengan demikian Implementasi Kurikulum 2013 disekolah SMA/SMK yang benar-benar murni menggunakan Kurikulum 2013 hanya 3 Mata Pelajaran yaitu Matematika, Sejarah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Selain ke 3 Mata Pelajaran tersebut sekolah MASIH TETAP menggunakan KTSP namun dengan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) dan Integrasi Ke-3 Ranah.
INOVASI KURIKULUM 2013 DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIK
A. Pengertian
Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan,  dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode.[10] Pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan   bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah.
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan   pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.[11]
B. Konsep Pendekatan Scientifik
Kurikulum 2013 dengan pendekatan Scientifik adalah suatu pendekatan yang berkonsep kepada, antara lain:
1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.[12]
C. Langkah-Langkah Pembelajaran pada Pendekatan Scientific (Pendekatan Ilmiah)
Proses pembelajaran yanag mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi[13]. Perhatikan diagram berikut.
clip_image002
pendekatan scientific dan 3 ranah yang disentuh
Adapun penjelasan dari diagram pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah) dengan menyentuh ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
2. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
3. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
4. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
5. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.
6. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud  meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran scientific meliputi:
1. Observing
2. Questioning
3. Assosiating
4. Exprimenting
5. Networking[14]
clip_image004
Langkah-langkah pendekatan Scientifiec
Dengan demikian, pendekatan Scientifik adalah suatau pendekatan yang mengajak peserta didik aktif dalam menemukan pengetahuannya sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. Hal ini dilandasi beberapa alasan, antara lain:
4. Guru yang selama ini bertugas menjadi pendidik ternyata tidak mampu membuat kurikulum sendiri sehingga KTSP tidak berjalan sempurna.
5. Sejak tahun 1984 aspek pembelajaran di sekolah lebih didominasi oleh aspek kognitif. Sedangkan aspek afektif dan psikomotorik dilupakan.
Pendidikan yang dijalankan di Indonesia selama ini lebih ditekankan pada  ilmu (study) bukan belajar (learn). Oleh karena itu, pendidikan karakter kebangsaan menjadi terabaikan.
Dalam kurikulum 2013 ada yang disebut dengan pendekatan Scientifik yaitu : konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan   bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah
B. SARAN-SARAN
Dalam Penulisan Makalah ini tentunya tidak luput dari ketidaksesuaian dengan ketentuan yang disesuaikan,untuk perbaikan dan Khazanah Ilmu kedepannya.Saran –Saran sangat dibutuhkan!.......
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik. Oemar, 2013.Kurikulun dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi aksara,
Kemendiknas, Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas. 2012. Bandung : Citra Umbara.
Samin. Mara, 2011. Telaah Kurikulum. Bandung:Citapustaka Media Perintis.
Sanjaya. Wina, 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Yusran .A. Tabrani. 1992. Strategi Penerapan Kurikulum di Sekolah. Jakarta : Bina Mulia.




METODE PEMBELAJARAN SKI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Penulisan
Aktivitas pendidikan dan pembelajaran adalah suatu aktivitas yang di khalifah-rasyidinlakukan dengan pola yang bersistem dan bertujuan untuk memanusiakan manusia, serta mengajarinya untuk merencanakan dan mengatur masa depannya. Bercermin kepada sejarah, merupakan suatu kemestian yang harus dilakukan oleh manusia, guna mengetahui kegagalan dan keberhasilan umat-umat terdahulu, sesudah itu dia sendirilah yang menentukan masa depannya, sesuai dengan cerminan sejarah itu.
Ilmu sejarah merupakan bagian dari berbagai cabang ilmu yang mesti dipelajari oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi umat manusia. Ilmu sejarah senantiasa menarik minat orang banyak. Orang-orang biasa dan orang-orang yang tidak pintar juga ingin mengetahuinya, karena sebab inilah, maka pelajaran/pengetahuan sejarah mesti diajarkan dengan berbagai metode yang tepat dan berkesan, agar initi sejarah itu berkesan di dalam jiwa orang yang mempelajarinya, terutama dibidang Sejarah Kebudayaan Islam, yang merupakan kebudayaan yang paling terbaik dimasa pertengahan jika dibandingkan dengan kebudayaan bangsa-bangsa atau umat lainnya, seperti kebudayaan Yunani, Persia dan Romawi kuno. Ini lah yang menjadi sebagian dari latar belakang penulisan ini.
B. Batasan Masalah
Seperti yang sudah penulis sampaikan di atas, tulisan ini hanya akan membahas tentang berbagai metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran SKI di Sekolah, yang ruang lingkupnya hanya terhenti pada beberapa bagian, yaitu:
1. Pengertian
2. Jenis-jemnis metode
3. Implikasi metode dalam Pembelajaran
Pembatasan ini juga dilakukan agar penulis tidak merasa kesulitan untuk mengumpulkan berbagai referensi pendukung, sebab dalam pembelajaran SKI itu memiliki ruang lingkup yang sangat banyak dan kompleks, mulai dari Pendekatan, Strategi, hingga kepada Evaluasi.
C. Tujuan penulisan
Tujuan utama penulisan ini adalah sebagai Khasanah Keilmuan, untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang berbagai hal yang mencakup tentang metode Pembelajaran SKI tersebut, juga untuk menjadi motivasi bagi para pendidik agar dapat mengajarkan pengetahuannya dengan baik kepada para peserta didik.
Tulisan ini juga diperuntukkan sebagai pelengkap tugas mata kuliah Pembelajaran SKI, yang dibimbing oleh Bapak Salman Al-Farisyi, MA.
Akhirnya, hanya terima kasih yang banyak lah yang dapat penulis sampaikan kepada semua pihak yang mendukung selesainya penulisan ini, mulai dari kawan-kawan yang telah mendudukung dengan berbagai pemikiran dan berbagai referensi, juga terima kasih yang tak terhingga secara khusus penulis sampaikan kepada Bapak Pembimbing yang dengan setianya membimbing Mata Kuliah ini sampai selesai pada pembahasan ini dan pembahasan-pembahasan berikutnya. Wassalam
Simpang Empat 25 Maret 2014
Penulis
BAB II
PEMBAHASAN
METODE PEMBELAJARAN SKI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
METODE PEMBELAJARAN SKI
A. Pengertian Metode Pembelajaran SKI
Metode diartikan sebagai: cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatuu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatuu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[1] Metode “Method” 1 way of doing; 2 quality of being well planned and organized.[2] Para ahli mendefenisikan metode sebagai berikut:
1. Hasan langgulung dalam Ramayulis “metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan”
2. Abd. Al-Rahman Ghunaikahdalam Ramayulis “metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran”[3]
3. Ahmad Tafsir (1996: 9) “metode mengajar adalah cara yang paling tepat dan tepat dalam mengajarkan mata pelajaran”.[4]
4. Abudin Nata (2005: 143) ”metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan”.[5]
5. Mattulada dalam Mujammil Qomar “cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”.[6]
Kemudian kata metode ini dikaitkan dengan pembelajaran, yaitu interaksi yang sistematis dan terstruktus antara pendidik dengan peserta didik. Dengan demikian, Metode pembelajaran secara Harfiyah dapat diartikan sebagai cara-cara menyam-paikan materi pelajaran dengan cepat dan tepat, dalam artian lain efektif dan efisien.
B. Jenis-jenis Metode Pembelajaran SKI
Sebagaimana diketahui bahwa guru perlu menberikan pengajaran secara menarik agar siswa/peserta didik lebih bergairah untuk menjalankan proses belajarnya. Untuk itu guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan sesuai kebutuhan, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan kaku, sarah dan membosankan siswa/peserta didik.[7]
Metode pembelajaran agama Islam secara umum yang pernah diungkapkan oleh Ahmad Tafsir adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan dan resitasi.[8] Jika dikaitkan dengan pendapat Ramayulis[9], beliau menawarkan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengajaran bidang studi Agama, dapat di jelaskan sebagai berikut:
1. Metode ceramah, yaitu: penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik.
2. Metode tanya jawab, yaitu: cara mengajar di mana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan.
3. Metode diskusi, yaitu: suat penyajian bahan pembelajaran di mana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/membicarakan dan menganalisis secar ilmiah.
4. Metode pemberian tugas, yautu: cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid mempertanggungjawakannya.
5. Metode demonstrasi, yaitu: suat cara mengajar dimana guru mempertunjukkan tentang proses sesuatu, atau poelaksanaan sesuatu sedangkan murisd memperhatikannya.
6. Metode eksperimen, yaitu: suat cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan sesuatu percobaan, dan setiap proses dari hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
7. Metode kerja kelompok, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru membagi murid-muridnya ke dalam kelompok belajar tertentu dan setiap kelompok diberi tugas-tugas tertentu.
8. Metode kisah, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran melalui kisah atau cerita.
9. Metode amsal, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan membuat/melalui contoh atau perumpamaan.
10. Metode targhib dan tarhib, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan.
Melihat beberapa keterangan yang telah diungkapkan diatas, jelaslah metode pendidikan Agama Islam itu sangat luas dan sudah mencakup segala hal, namun jika ingin dipilih-pilih terhadap metode yang lebih tepat untuk dipakai dalam pembelajaran SKI, dapat disimpulkan sebagai beriku : bahwa metode pembelajaran SKI dapat dilakukan dengan:
1. Ceramah
Sebagaimana diungkapkan di atas apa yang disebut dengan metode ceramah, penulis sendiri berpendapat bahwa metode ceramah ini dapat dipakai dalam segala jenis pembelajaran dan dalam bidang studi apapun. imelalui metode ceramah ini guru menceritakan/menyampaikan kejadian-kejadian masa lampau dan menjelaskan hikmah apa yang bisa diambil dari sejarah tersebut.[10]
2. Tanya jawab
Metode ini juga dapat dilakukan oleh guru dalam kelas, dengan memulai pertanyaan yang menantang terhadap minat peserta didik. Seperti dengan memulai pertanyaan “siapakah tokoh yang termasuk dalam pembaharuan peradaban dalam islam yang terus menjadi panutan??”.
3. Kerja Kelompok.
Metode yang satu ini pun bisa dilakukan untuk pembelajaran SKI, sebab dengan pemberian tugas kepada peserta didik yang diselesaikan melalui kerja kelompok dapat mengaktifkan siswa secara otomatis untuk mencari pengetahuannya sendiri bersama-sama dengan orang-orang se-kelompoknya.
4. Timeline (Garis Waktu)
Metode ini tergolong tepat untuk pembelajaran sejarah karena di dalamnya termuat kronologi terjadinya peristiwa. Dengan metode ini, peserta didik bisa melihat urutan kejadian dan akhirnya juga bisa menyimpulkan hukum-hukum seperti sebab akibat dan bahkan bisa meramalkan apa yang akan terjadi dengan bantuan penguasaan Timeline beserta rentetan peristiwanya.
Timeline dipakai untuk melihat perjalanan dan perkembangan satu kebudayaan oleh karena itu dia bisa dibuat panjang atau hanya sekedar periode tertentu. Timeline untuk sejarah kebudayaan Islam bisa dibuat mualai dari zaman Jahiliyah menjelang Islam. hadir sampai pada saat ini; timeline juga hanya bisa dibuat menggambarkan perjalanan peristiwa dalam satu kurun atau periode tertentu. Ini adalah metode survey sejarah yang sangat baik karena peserta didik akan melihat benang merah atau hubungan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.[11]
Langkah-langkah:
a. Sampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam pembelajaran hari itu.
b. Tunjukkan pentingnya mempelajari sejarah melalui timeline.
c. Buat timeline dengan cara menarik garis lurus horizontal dan menuliskan waktu tertentu dan beberapa kejadian penting yang terjadi di dalamnya. Waktu berikutnya juga ditulis seperti cara titik waktu pertama dan begitu terus sampai pada waktu tertentu yang sesuai dengan materi pembelajaran. Berikut ini adalah dua contoh timeline yang dibuat dengan cara yang sedikit berbeda pada masa nabi sampai menjelang hijrah.
Timeline yang pertama ditulis dengan format satu tahun satu peristiwa penting.
clip_image002
Timeline yang kedua memungkinkan satu tahun memuat banyak peristiwa penting secara simultan
d. Jelaskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada tahun-tahun tertentu dan menjelaskan hubungannya dari tahun ke tahun.
e. Adakan tanya jawab mengenai peristiwa-peristiwa dan hubungannya satu dengan yang lain.
f. Buat kesimpulan.
g. Minta peserta didik untuk membuat timeline yang berhubungan dengan mereka masing-masing mulai dari lahir sampai saat ini.[12]
Jika dikaitkan dengan pendapat di atas, Ibn Khaldun juga sudah menawarkan metode pembelajaran Sejarah yaitu metode sistematis, yaitu menceritakan kejadian itu sesuai dengan rentetan masanya.
Ibn Khaldun “aku mencatat permulaan generasi-generasi dan Kerajaan-kerajaan, bangsa-bangsa awal yang berada pada satu masa, sebab-sebab tindakan dan perubahan dalam masa-masa lalu dan agama-agama, dan apa yang menjadi prasyarat peradaban berupa Kerajaan, agama, kota, cara berpakaian, kebanggaan, kehinaan, jumlah yang banyak dan jumlah yang sedikit, ilmu dan keahlian, kondisi yang berubah-ubah secara umum, perkotaan pedesaan, peristiwa yang sudah terjadi dan yang sedang dinanti kejadiannya”[13]
5. Metode Concept Map (Peta Konsep)
Peta konsep adalah cara yang praktis untuk mendeskripsikan gagasan yang ada dalam benak. Nilai praktisnya terletak pada kelenturan dan kemudahan pembuatannya. Guru bisa memanfaatkan peta konsep untuk dijadikan sebagai metode penyampaian materi sejarah. Penyampaian materi dengan peta konsep akan memudahkan siswa untuk mengikuti dan memahami alur sejarah dan memahami secara menyeluruh.[14] Peserta didik sendiri nantinya yang akan membuat kaitan antara satu konsep dengan lainnya.
Peta konsep sangat tepat dipakai untuk pembelajaran sejarah karena banyak konsep yang harus dikuasai oleh siswa untuk mengembangkan proses berpikir. Dengan peta konsep, peserta didik tidak akan mengingat dan menghafal materi sejarah secara verbatim, kata per-kata. Mereka punya kesempatan untuk membangun kata-kata mereka sendiri untuk menjelaskan hubungan satu konsep dengan lainnya. Di samping itu, Peta konsep bisa mengatasi hambatan verbal atau bahasa untuk menyampaikan gagasannya dan dalam saat yang sama bisa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.[15] yang pada akhirnya akan mendorong kemampuan verbalnya, penggunaan kata-kata untuk menyampaikan gagasannya.
Terkadang istilah Peta Konsep (Concept Map) disejajarkan dengan Peta Pikiran (Mind Map). Keduanya memang mempunyai kesamaan dalam hal pembuatannya; keduanya menggunakan cara kerja pembuatan peta. Sedikit perbedaan yang bisa digaris bawahi adalah bahwa Peta Pikiran lebih cenderung dipakai untuk menyampaikan gagasan-gagasan ilmiah yang menjadi kesepakatan umum, sementara itu, Peta Pikiran lebih bersifat personal, yaitu untuk menggambarkan ide-ide atau segala yang ada dalam pikiran seseorang. Peta pikiran merupakan metode yang sangan bagus untuk mencurahkan gagasan.
IMPLIKASI METODE DALAM PEMBELAJARAN
A. Fungsi Metode Secara Umum
Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu.[16]
Dengan demikian, jelaslah bahwa metode amat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan. Namun, hal itu menurut perspektif Al-Qur’an harus bertolak dari pandangan yang tepat terhadap manusia sebagai makhluk yang dapat dididik melalui pendekatan jasmani, jiwa, dan akal pikiran.
B. Implikasi Metode
Secara harfiyah, implikasi dapat diartikan sebagai “keterlibatan atau keadaan terlibat”.[17] Jadi Implikasi Metode terhadap pembelajaran adalah: keterlibatan suat metode terhadap pembelajaran tersebut, terkhusus dalam pembelajaran SKI.
Seperti yang diungkapkan di atas, jelas bahwa metode itu besar sumbangannya terhadap tercapainya tujuan pembelajarn. Anggap saj jika seorang guru tidak mampu menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran, maka, sulit sekali dibayangkan jika guru tersebut dan peserta didiknya mencapai suat kompetensi yang diharapkan dari efek suat pembelajarn yang dilakukan tersebut.
Sesuai penjelasan di atas, Wina Sanjaya pernah mnyinggungkan hal ini, beliau mengatakan
““telah hampir satu jam pelajaran seorang guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya. Tentu saja materi yang ia sampaikan adalah pelajaran yang ia pelajar pada malam harinya. Sebagian besar siswa sama sekali tidak merasa tertarik dengan materi yang disampaikannya, karena mereka merasa apa yang disampaikan sang guru sama persis dengan apa yang ada dalam buku yang telah mereka pelajar di rumah. Oleh karena itulah mereka merasa gelisah selama mendengarkan penjelasan guru. Diantara mereka ada yang asyik membaca buku, mengoprol, dan ada juga yang mengantuk. Memperhatikan gejala yang tidak mengenakkan itu, guru segera bereaksi. Sambil memukul-mukul mistar panjang kepapan tulis ia berkata “anak-anak tolong perhatikan...! materi yang bapak sampaikan ini adalah materi yang sangat penting untuk kalian kuasai, nanti so’al-so’al ujian tidak akan jauh dari apa yang bapak sampaikan. Oleh karena itu, tolong perhatikan apa yang bapak sampaikan...!”.
Anak-anak diam sebentar. Yang sedang mengoprol segera menghentikan obrolannya, yang sedang membaca melipat buku bacaannya, demikian juga yang sedang mengantuk melepas kantuknya. Sang guru segera melanjutkan “mengajarnya”, bertutur menyampaikan informasi. Suara sedikit melemah, karena kehabisan energi, sehingga siswa yang duduk di bangku bagian belakang tidak dapat menangkap apa yang diuraikan guru. Ini semua semakin membuat bosan siswa, mereka kembali dengan aktivitasnya semula: mengoprol, membaca, dan mengantuk. “Membosankan...!” gerutu seorang siwa yang duduk dibelakang”” [18]
Menurut penuturan di atas, dapat kita ambil kesimpulan, bahwa betapa besar peran rangkaian multi-metode yang dikuasai guru terhadap kondusifnya sebuah aktivitas pembelajaran yang terus berorientasi kepada kompetensi yang mesti dicapai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
guru perlu memberikan pengajaran secara menarik agar siswa/peserta didik lebih bergairah untuk menjalankan proses belajarnya. Untuk itu guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan sesuai kebutuhan, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan kaku, sarah dan membosankan siswa/peserta didik.
Metode diartikan sebagai: cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatuu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatuu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode “Method” 1 way of doing; 2 quality of being well planned and organized
terhadap metode yang lebih tepat untuk dipakai dalam pembelajaran SKI, dapat disimpulkan sebagai beriku : bahwa metode pembelajaran SKI dapat dilakukan dengan:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Kerja Kelompok.
4. Timeline (Garis Waktu)
5. Metode Concept Map (Peta Konsep)
Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu
B. Saran
Kritik dan saran sangan penulis harapkan demi Khasanah Keilmuan dan perbaikan kedepannya
DAFTAR PUSTAKA
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hanafi, 2012. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.
Iskandar Agung, 2010. Meningkatkan Kreativitas Mengajar Bagi Guru. Jaktim : Bestari.
Khaldun. Ibn, 2012. Mukaddimah Ibn Khaldun, (alih bahasa Masturi Irham, Lc Dkk), Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsal.
Qomar. Mijammil, (Tanpa Tahun). Epistemologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional Hingga Metode Kriti. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Nata. Abuddin, 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University Prss.
Poerwadarminta. W.J.S., 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: balai Pustaka.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. 2012. Jakarta: Kalam Mulia.
Sanjaya. Wina, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media.
Tafsir. Ahmad. 1999. Metodologi Pngajaran Agama Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya,
Abdul Latif M, Metode Pembelajaran Sejarah atau SKI, www. Kompasiana.com..




ZAKAT PROFESI DAN HASIL USAHA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil zakat168profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi dimaksud mencakup profesi pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, wiraswasta, dll.
Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khazanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat. sekalipun hukum mengenai zakat profesi ini masih menjadi kontroversi dan belum begitu diketahui oleh masyarakat muslim pada umumnya dan kalangan profesional muslim,

PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang kartun_bacadiberikan oleh pendidik kepada peserta didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah ke arah kedewasaan. Untuk mencapai tujuan pendidikan itu, maka pendidik yang benar-benar bertanggung jawab dan berakhlaq mulia sangat diharapkan. Dan juga, Peserta didik di dalam mencari nilai-nilai hidup, harus dapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran Islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci/fitrah sedangkan alam sekitarnya akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan agama peserta didik.
Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT:

KETERAMPILAN MENGAKTIFKAN BELAJAR SERTA MENUMBUHKAN MINAT SISWA DALAM BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi mahasiswa-bingungsumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Salah satu faktor dari dalam diri yang menentukan berhasil tidaknya dalam proses belajar mengajar adalah minat belajar. Dalam kegiatan belajar, minat merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri yang menimbulkan kegiatan belajar,yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar.
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila adanya pendidik atau guru, peserta didik (siswa), materi (bahan pelajaran), media pembelajaran (sarana prasarana), metode dan strategi-strategi pembelajaran yang ada didalamnya. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan tindakan pelajar itu sendiri.
Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung, dan secara pribadi menarik hati. Sering kali, peserta didik tidak hanya terpaku di tempat-tempat duduk mereka, berpindah-pindah dan berpikir keras. Merupakan sebuah kesadaran baru yang harus diutamakan adalah peran anak didik sebagai aktor bukannya guru. Selama ini yang lebih ditonjolkan adalah guru atau dosen, sementara siswa/mahasiswa diposisikan sebagai objek atau di ibaratkan siswa datang sebagai celengan kosong, kemudian guru/dosen masuk untuk menyuapi ataupun mengisinya. Untuk itu, harus diciptakan belajar aktif didalam kelas terutama kepada peserta didik yang sangat berperan dan seorang guru harus profesional dalam hal pengelolaan kelas.
Kita tahu bahwa peserta didik belajar paling baik dengan cara melakukan. Tetapi bagaimana kita mengembangkan belajar aktif ? Nah, didalam makalah ini akan dibahas mengenai strategi-strategi khusus dan praktis yang dapat digunakan untuk semua materi pelajaran. Strategi-strategi ini dirancang untuk memeriahkan ruangan didalam kelas. Beberapa dari strategi tersebut sangat menyenangkan dan mengarahkan kepada hal yang serius, tetapi semuanya dimaksudkan untuk mendalami kegiatan belajar dan ingatan serta mengaktifkn siswa didalam pembelajaran.
B. Batasan masalah
Untuk menghindarkan pelebaran pembahasan yang tidak berketentuan, maka penulis membatasi diri, bahwa tuliasan ini hanya akan mebahas tentang:
1. Keterampilan Mengaktifkan Siswa
a. Pengertian
b. Strategi
2. Keterampilan menumbuhkan minat dan perhatian siswa
a. Perhatian
b. Strategi menumbuhkan minat
c. Strategi menjaga perhatian siswa
C. Tujuan penulisan
1. Khasanah Keilmuan
2. Dapat menambah pengetahuan penyusun mengenai peran guru dalam meningkatkan minat dan perhatian belajar siswa
3. Membantu guru atau pendidik dalam hal bagaimana mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
4. Mengurangi problema dalam manajemen kelas yang seringkali mengganggu pendidik atau guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
5. Sebagai pelengkap tugas mata kuliah Micro teaching1. Yang dipangku Oleh Ibunda Dra. Hj. Khadijah Isma’il, MA.
BAB II
PEMBAHASAN
KETERAMPILAN MENGAKTIFKAN BELAJAR SISWA, KETERAMPILAN MENUMBUHKAN MINAT DAN PERHATIAN BELAJAR SISWA
A. KETERAMPILAN MENGAKTIFKAN BELAJAR SISWA
1. Pengertian
Menurut Gordon (1994 : 55), keterampilan adalah kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan secara mudah dan cermat. Sedangkan keterampilan menurut Dunnette (1976 : 33), keterampilan merupakan kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan beberapa tugas yang merupakan pengembangan dari hasil training dan pengalaman yang didapat.[1] Jadi, dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah suatu kemampuan dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaaan sesuai dengan kapasitas yang diperlukan secara mudah dan cermat.
Keterampilan mengaktifkan belajar siswa merupakan kegiatan guru dalam usaha merancang kegiatan pembeljaran yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan belajar secara aktif baik fisik maupun mental.[2] Seorang guru harus bisa terampil untuk mengaktifkan siswanya di dalam pembelajaran. Dengan demikian, guru harus memiliki kemampuan berempti, menjadi pendengar yang baik, dan bisa menjadi fasilitator bagi anak didik dalam memecahkan masalah mereka oleh mereka sendiri.
Sedangkan kata “mengaktifkan” berasal dari kata aktif yang berarti giat.[3] Sedangkan mengaktifkan sendiri diartikan dengan: menjadikan aktif; menggiatkan.[4] Melalui pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengaktifkan belajar siswa adalah kemampuan guru dalam mebimbing peserta didiknya untuk terus giat dan ikut serta dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
2. Strategi mengaktifkan belajar siswa
Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Dengan demikian, guru sebagai fasilitator dituntut agar mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa.[5]
Kumpulan awal strategi ini akan membantu para peserta didik untuk lebih mengenal dan memahami kembali atau membangun semangat tim dengan sebuah kelompok yang telah saling mengenal satu sama lain. Ketika ingin menggunakan berbagai strategi membangun tim ini, cobalah kaitkan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan dikelas dan membuat eksprimen dengan strategi-strategi baru untuk peserta didik.
Adapun strategi-strategi dalam mengaktifkan peserta didik atau siswa adalah sebagai berikut.[6]
a. Reconecting (Menghubungkan Kembali)
Ketika ingin memulai pelajaran, maka sangat penting membuat peserta didik agar aktif dari awal. Jika tidak, akan terjadi resiko yang berdampak seperti halnya semen yang dalam waktu kurun waktu tertentu akan membeku.
Dalam pelajaran yang waktunya habis, kadang-kadang akan membantu menghabiskan beberapa menit untuk mengaitkan kembali pelajaran tersebut dengan para peserta didik setelah beberapa saat lewat diantara (sela) pelajaran.
b. Inquiring Minds What To Know (Membangkitkan Rasa Ingin Tahu)
Teknik sederhana ini merangsang rasa ingin tahu peserta didik dengan mendorong spekulasi mengeni topik atau persoalan. Para peserta didik lebih mungkin menyimpang pengetahuan tentang materi pelajaran yang tidak tercakup sebelumnya jika mereka terlibat sejak awal dalam sebuah pengalaman pengajaran kelas penuh.
c. Learning Starts With A Question (Belajar Memulai dengan Sebuah Pertanyaan)
Proses mempelajari sesuatu yang baru adalah adalah lebih efektif jika peserta dididik tersebut aktif, mencari pola daripada menerima saja. Satu cara menciptakan pola belajar aktif ini adalah merangsang peserta didik untuk bertanya tentang mata pelajaran mereka, tanpa menjelaskan dari pengajar lebih dahulu. Strategi sederhana ini merangsang siswa untuk bertanya, kunci belajar.[7]
d. The Power Of Two (Kekuatan Berdua)
Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan dan keuntungan sinergi itu. Karenanya, dua kepala tentu lebih baik daripada satu.
e. Everyone Is A Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru)
Ini merupakan sebuah strategi yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didiklain.
Menurut para ahli psikologi belajar ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk mengaktifkan siswa belajar. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:[8]
1. Motivasi
2. Latar dan konteks
3. Keterarahan atau Fokus
4. Hubungan sosial atau sosialisasi
5. Belajar sambil Bekerja
6. Perbedaan perorangan
7. Prinsip Menemukan, dan
8. Memecahkan Masalah.[9]
B. KETERAMPILAN MENUMBUHKAN MINAT DAN PERHATIAN BELAJAR SISWA
1. Pengertian
Menumbuhkan berasal dari kata tumbuh, yang dapat diartikan dengan: timbul (hidup) dan bertambah besar atau sempurna.[10] Sedangkan menumbuhkan adalah menjadikan (menyebabkan) tumbuh.[11]
Kemudian diiringi dengan kata minat, yang diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan.[12] Minat “Intrest” quality tthat attackts attention or curiociti; to work hard.[13]
Perhatian adalah keseriusan dalam mengikuti; sungguh-sungguh.[14] Jika digabungkan, keterampilan menumbuhkan minat dan perhatian belajar siswa adalah, kemampuat guru dalam menumbuhkan atau menimbulkan gairah dan keinginan serta kesungguhan peserta didik dalam mengikuti pelajaran.
2. Cara Menumbuhkan Minat Siswa
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya (Slameto, 1995: 57). Usman Effendi dan Juhaya S. Praja (1989: 72) berpendapat bahwa minat itu dapat ditimbulkan dengan cara sebagai berikut:
a) Membangkitkan suatu kebutuhan misalnya, kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapatkan penghargaan dan sebagainya.
b) Menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang lampau
c) Memberikan kesempatan mendapat hasil yang baik “Nothing succes like success” atau mengetahui sukses yang diperoleh individu itu sebab success akan memberikan rasa puas.
Selanjutnya, akan memperoleh ukuran dan data minat belajar siswa, kunci pokoknya adalah dalam mengetahui indikatornya. Indikator minat belajar terdiri dari perbuatan, perhatian dan perasaan senang.
1. Partisipasi/Perbuatan
Minat yang telah muncul, diikuti oleh tercurahnya perhatian pada kegiatan belajar mengajar, dengan sendirinya telah membawa murid ke suasana partisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar (Ahmad Tafsir, 1999: 24).[15]
Kegiatan berpartisipasi aktif tidak selalu berupa gerakan-gerakan badaniah. Murid-murid yang ikut aktif secara aqliyah atau secara bathiniyah dalam proses pengajaran. Sementara itu, Bernard yang dikutif Sardiman A.M. (1996: 76) mengatakan bahwa minat tidak timbul secara tiba-tiba atau spontan melainkan timbul akibat dari partisipasi. Jadi, jelas bahwa soal minat akan selalu berkait dengan soal kebutuhan atau keinginan. Oleh karena itu, yang penting bagimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa selalu aktif dan ingin terus belajar.
2. Perhatian
Perhatian merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemulihan rangsangan yang datang dari lingkungannya (Slameto, 1996: 183) mengemukakan bahwa istilah perhatian dapat berarti sama dengan konsentrasi, dapat pula minat momentan, yaitu perasaan tertarik pada suatu masalah yang sedang dipelajari. Konsentrasi dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan siswa dalam minatnya terhadap belajar. Siswa yang berperasaan tidak senang dalam belajar dan tidak berminat dalam materi pelajaran. Akan mengalami kesulitan dalam memusatkan tenaga dan energinya.
3. Perasaan
Perasaan adalah suatu pernyataan jiwa yang sedikit banyak yang bersifat subjektif, untuk merasakan senang atau tidak senang dan yang tidak bergantung pada perangsang dan alat-alat indra (Agus Sujanto, 1991: 75). Sementara itu Kartini Kartono (1996: 87) menyebut perasaan dengan istilah rencana. Maka merasa itu adalah kemampuan untuk menghayati perasaan atau rencana. Rencana itu bergantung kepada (a) isi-isi kesadaran, (b) kepribadian, (c) kondisi psikisnya. Ringkasnya, rencana ini merupakan reaksi-reaksi rasa dari segenap organisme psiko fisik manusia.
3. Cara Menetapkan Perhatian Siswa[16]
Berikut ini adalah cara yang dapat digunakan saat mengajar di kelas anda, sehingga siswa tetap berfokus dan memperhatikan pembelajaran yang sedang dilakukan.
1. Pancing ketertarikan siswa dengan cerita singkat
Siapa yang tidak suka mendengar cerita? Siswa anda pasti suka. Itu adalah human nature. Sudah dari sononya. Nah, apabila anda mengajar, selipkan cerita singkat yang berhubungan dengan pembelajaran anda. Cerita yang diberikan tentu bukan asal cerita, melainkan cerita yang ada kaitannya dengan pembelajaran anda. Cerita ini dapat digunakan sebagai salah satu bentuk memberikan jeda (berhubungan dengan tips nomor 13 di bawah). Cerita disajikan secara menarik sehingga perhatian siswa yang mulai kendur terhadap anda dan pembelajaran anda dapat dikembalikan seperti semula.
2. Ajukan pertanyaan yang bersifat open ended
Pertanyaan dapat membantu anak-anak atau siswa berpikir. Agar semua siswa dapat berpikir dan menjawabnya, berikanlah pertanyaan yang bersifat open ended (terbuka). Pertanyaan semacam ini akan dapat melibatkan semua siswa untuk menjawabnya, karena siswa akan menggunakan pemikiran dan berpendapat tentang hal ikhwal yang dipertanyakan melalui pertanyaan open ended tersebut.
3. Berikan hanya satu macam tugas pada suatu sesi pembelajaran
Beberapa siswa mungkin dapat menghandel beberapa tugas sekaligus dan memanajemennya dengan baik selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Akan tetapi sebagian besar siswa sebenarnya kesulitan melakukan tugas yang lebih dari satu. Jika semua tugas (lebih dari satu) adalah target yang memang harus dipenuhi dalam pembelajaran anda hari itu, buatlah tugas itu sedemikian rupa sehingga dapat dibagi-bagi menjadi sub-sub tugas yang dapat dikerjakan pada beberapa sekuen (sesi) pembelajaran pada hari itu dan mereka akan dapat menyelsaikannya satu per satu.[17]
4. Berikan arahan yang jelas untuk mengerjakan tugas
Beberapa guru seringkali menganggap suatu tugas mudah dikerjakan walaupun hanya dengan petunjuk singkat pada lembar kerja.pada kenyataannya, siswa seringkali tidak mengerti apa maksus dari petunjuk yang diberikan pada tugas tersebut. Karena itu, mengkonfirmasi apakah mereka memahami dengan jelas apa yang ditugaskan kepada mereka sangat penting. Dan, yang jauh lebih penting lagi, siswa seringkali membutuhkan penjelasan dan arahan tambahan tentang tugas yang dikerjakan. Lakukan ini sebaik-baiknya agar jangan sampai waktu siswa untuk mengerjakan tugas terbuang sia-sia atau membuat mereka berada dalam kebingungan untuk beberapa waktu.
5. Lakukan kontak pandang
Saat siswa-siswa mulai mengendur perhatian terhadap pembelajaran. Gunakan kontak pandang kepada setiap siswa anda. Terutama saat anda berbicara kepada mereka secara terarah (individual, siswa tertentu)ataupun saat anda berbicara kepada seluruh kelas. Sapukan pandangan mata anda secara bergantian dan berputar ke seluruh bagian kelas, ke seluruh siswa anda sedemikian rupa sehingga mereka merasa diajak berbicara. Bila mereka merasa sedang diajak berbicara, maka mereka akan mendengarkan anda.[18]
6. Berkelilinglah ke seluruh bagian kelas
Beberapa guru memiliki tipe kurang dinamis dalam pergerakan di dalam kelasnya. Guru-guru model ini cenderung lebih banyak berdiri di depan atau duduk di kursinya sambil mengajar. Ini bukan guru yang baik apabila ingin dengan mudah menjaga perhatian siswa terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. Cara yang terbaik adalah, guru harus berkeliling ke seluruh bagian kelas. Apabila mereka sedang mengerjakan tugas, guru lebih-lebih lagi harus berkeliling. Ia harus mengecek bagaimana siswa mengerjakan tugas itu. Mereka mungkin saja memerlukan bantuan, memerlukan tanggapan, atau memerlukan konfirmasi dari anda.[19]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai minat dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan minat belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan minat belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.
Ketermpilan dalam mengaktifkan siswa merupakan kemampuan dalam mengelola dan mengoperasikan suatu pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tertentu secara cermat dan teliti agar siswa turut aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Didalam belajar dikenal tipe-tipenya yaitu tipe belajar visual (penglihatan), auditif (pendengaran), kinestetik (gerak dan sentuhan) dan kombinatif. Kemudian dalam mengaktifkan siswa dalam pembelajaran juga memiliki prinsip-prinsip sebelumya. Prinsip-prinsip dalam mengaktifkan siswa antara lain motivasi, latar dan konteks, keterarahan atau focus, hubungan sosial atau sosialisasi, belajar sambil bekerja, perbedaan perorangan, prinsip menemukan, dan pemecahan masalah.
Strategi-strategi yang digunakan dalam mengaktifkan siswa adalah Reconecting (Menghubungkan Kembali), Inquiring Minds What To Know (Membangkitkan Rasa Ingin Tahu), Learning Starts With A Question (Belajar Memulai dengan Sebuah Pertanyaan), The Power Of Two (Kekuatan Berdua), dan Everyone Is A Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru).
B. Saran
Untuk calon pendidik, mari sama-sama memperkaya keterampilan kita, dengan tujuan agar menjadi pendidik yang profesional. Kemudian Kritik dan saran sangan penulis harapkan demi Khasanah Keilmuan dan perbaikan kedepannya
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2001), Hlm
Oxfort University, Oxfort Learners Pocket Dictionary, (Oxfort University Prss,2008), Hlm .232
Paul Suparno, SJ, R.Rohadi,dkk, , 2002. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta:Penerbit Kanisius.
Sanjaya. Wina, 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Silberman. Melvin L, 1996, Active Learning:101 Strategi Pembelajaran Aktif.
Tafsir. Ahmad. 1999. Metodologi Pngajaran Agama Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya,