Selasa, 08 September 2015

METODE-METODE STUDI TARBIYAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pendidikan sangat diperlukan sebagai proses yang mampu membangun potensi manusia menuju kemajuan dalam segala aspek. Pendidikan menurut Islam atau Pendidikan Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan yang dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al-qur’an dan Al-Sunnah.

Kemajuan ilmu dan teknologi yang makin canggih dewasa ini telah menimbulkan berbagai macam perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk perubahan dalam tatanan sosial dan moral. Dibalik kemajuan yang demikian pesat itu, mulai terasa pengaruh yang kurang menggembirakan, yaitu mulai tampak dan terasa nilai-nilai luhur agama, adat dan norma sosial yang selama ini sangat diagungkan bangsa indonesia mulai menurun bahkan kadangkala diabaikan, karena ingin meraih kesuksesan dalam karier dan kehidupan. Untuk menangkal kesemuanya ini salah satu upaya yang dianggap ampuh adalah melalui jalur pendidikan, terutama pendidikan agama khususnya pendidikan agama Islam. Sebab pendidikan agama Islam berorientasi pada pembekalan kemampuan intelektual tinggi yang memiliki akhlaqul karimah yang baik.
Pendidikan haruslah dilihat sebagai bagian yang utuh, yang memposisikan guru, materi pelajaran yang diberikan, proses pendidikan, lingkungan rumah, sosial atau masyarakat, ekonomi, dan budaya lingkungan siswa sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan karakter (building) siswa menjadi anak yang sholh
A.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rumusan Masalah
a.      Bagaimana Metode Studi Kalam
b.      Bagaimana Maetode Studi Tasawuf
c.       Bagaimana Metode Studi Tarbiyah
2.      Batasan Masalah
a.      Maetode Studi Kalam
b.      Maetode Studi Tasawuf
c.       Maetode Studi Tarbiyah

B.     Tujuan Penulisan
1.      Agar memperoleh tentang berbagai hal menyangkut metode-metode studi Islam, terutama di bidang kalam, Tasawuf, dan studi tarbiyah
2.      Untuk mengembankan wawasan tentang Metodologi studi Islam, sesuai konsep pendidikan dan Pendiidkan.
3.      Untuk melengkapi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan semester dua prodi S1.








BAB II
PEMBAHASAN
A.     Ilmu Kalam
1.      Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu kalam atau ilmu telogi menurut pengertian secara harfiyah yaitu bersal dari kata teo yang artinya tuhan dan logi yang artinya ilmu sedangkan menurut pengertian secara giobal yaitu ilmu membahas tentang masalah ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan.
Menurut Ibn khaldun, sebagaimana dikutip Hanafi dan dikutip pula oleh abuddin nata, Ilmu kalam adalahilu yang berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.[1]
 Dalam perkembangan selanjutnya ilmu teologi berbicara berbagai masalah berkaitan dengan keimanan serta akibat-akibatnya seperti masalah iman, kufr, musyrik, murtad, kehidupan akhirat, berkaitan dengan kalamullah, orang yang tidak beriman dan sebagainya. Sejalan dengan ini teologi kadang di namai ilmu tauhid, ushuluddin, aqaid,[2] dan ketuhanan.
Dengan demikian seseorang yang mempeajari dapat mengetahui bagaiman cara-cara untuk memiliki keimanan dan bagaimana pula cara menjaga keimanan tersebut agar tidak hilang atau rusak.
2.      Model-Model Penelitian Ilmu Kalam
Secara garis besar, penelitian ilmu penelitian ilmu kalam dibagi menjadi dua bagian yaitu pertam penelitian yang bersifat dasar atau pemula, dan pada tahap ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu. kedua penelitian yang bersiafat lanjutan atau pengembangan dari penelitaian pemula, pada model ini mendeskripsikan Ilmu kalam menggunakan bahan-bahan rujukan dari peneliti pertama.
3.      Penelitian pemula
Dalam kaitan ini dapat kita jumpai beberapa karya hasil yang di susun oleh ulama selaku peneliti pemula, karya peneliti pemula sebagai berikut :
a.       Model abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi Al-Samarqandi
Beliau telah menulis buku teologi yang berjudul kitab At-tauhid dalam buku tersebut disebutkan pembahasan tentang cacatnya taqlid dalam hal beriman, serta kewajiban mengetahui agama dengan dalil al-sama' (dalil naqli) dan dalil aqli, pembahasan tentang alam, antrophormisme or paham jism pada tuhan, sifat-sifat Allah, dan perbedaan faham diantara manusia tenteng cara allah menciptakan makhluk, perbuatan mahluk, paham qadariyah, qada dan qadar, keimanan, tidak adanya dispensasi dalam hal islam dan iman
b.      Model Al-Imam Abi Al-Hasan bin Isma'il Al-Asy'ari
Beliau telah menulis buku berjudul Maqalat al-islamiyyin wa ikhtilaf al- mushallin. Didalam bukunya pada juz pertama membahas masalah aliran-aliran induk yang mencapai sepuluh, dan dibahas pula masalah aliran syiah, kebolehan bagi allah dalam menciptakan alam, kesanggupan manusia, perbuatan manusia dan bintang, kelahiran, kepemimpinan (imamah), kerasulan, keimanan, janji baik dan buruk, siksaan bagi anak necil, tentang tahkim(arbitrase), hakikat manusia khawarij. Dan masih banyak[3]
c.       Model Abdul Al-Jabbar bin Ahmad
Beliau menulis buku syarh Al-Ushul Al-Khamsyah bagi yang ingin mengkaji tentang ajaran mu’tazilah secara mendalam, mau tidak mau harus membaca buku ini. Ajaran pokok Mu’tazilah ada lima yaitu, al-tauhid, al-Adl, al-wa’ad alwa’id,[4][5] al-tauhid, al-Adl, al-wa’ad alwa’id, al-manzilah bain al-manzilatain, amar ma’ruf nahi munkar. dalam buku tersebut disebutkan tentang ajaran mu'tazilah secara mebdalam diantaranya adalah kewajiban yang utama dalam mengetahui allah, ma'na wajib, ma'na keburukan, hakikat pemikiran dan macam-macamnya, pembagian manusia, urusan dunia dan akhirat, makna berpikir.[5]
d.      Model Thahariyah
Beliau telah menulis buku yang berjudul Syarah Al-Aqidah At-thahawiyah. Dalam buku ini membahas teologi kalangan ulama salaf,  dan didalam buku tersebut telah dibahas kewajiban mengimani mengenai apa yang telah dibawah oleh rasul, kewajiban mengikuti ajaran para rasul, makna Tauhid, dan dibahas pula macam-macam tauhid yang dibawa oleh para rasul, tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah, mengenai wujud yang diluar zat, tafsir tentang qudrat, tafsir kalimat Lailaha illa Allah dll (bisa di lihat di buku MSI Abuddin nata).
e.       Model al-imam Al-Harmain Al-Juwaini
Beliau telah menulis buku yang berjudul Al-Syamil fi Ushul Al-Din. Didalam buku tersebut membahas tentag penciptaan alam yang didalamnya terdapat hakikat jauhar (subtansi), arad (aksidensi) didalamnya dibahas hakikat tauhid, kelemahan kaum mu'tazilah, pembahasan tentang akidah, kajian tentang dalil atas kesucian allah masalah illat atau sebab
f.        Model Al-Ghazali
Beliau telah menulis buku Al-Iqtishod fi al-I'tiqod membahas tentang perlunya ilmu dalam memahami agama dan juga perlunya ilmu sebagai fardhu kifayah, pembahasan tentang dzat allah, tentang qodimnya alam, dan penetapan tentang kenabian muhammad saw.
g.       Model Al-Amidy
Beliau telah menulis buku yang berjudul ghoyah almaram fi ilmu kalam yang membahas tentang sifat-sifat wajib bagi allah, sifat nafsianya[6], dan sifat yang jaiz bagi allah dan pembahasan tentang keesaan allah swt perbuatan yang bersfat wajib al-wujud dan tentang tidak ada penciptaan selain allah
4.      Penelitian Lanjutan
Berbagai hasil penelitian lanjutan dapat dikemukakan sebagai berikut :
a.       Model Abu Zahra
Beliau telah menulis buku yang berjudul Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah fi al-Siyasyah wa al-Aqo'id yang membahas tentang objek-objek yang dijadikan pangkal pertentangan oleh berbagai aliran dalam bidang politik yang berdampak pada masalah teologi dan membahas aliran dalam madzab syiah , khawarij dengan berbagai sektenya.
b.      Model Ali Mustofa Al-ghurabi
Beliau telah meulis buku yang berjudul tarikh Al-Firakh al-Islamiyah wa Nasyatu Ilmu al-Kalam’ ind al-Muslimin yang membahas perkembangan ilmu kalam, keadaan aqidah pada zaman nabi, khulafaurrasyidin dan dilanjutkan pembahasan mengenai aliran mu'tazilah lengkap dengan tokoh-tokoh dan pemikir teoliginya
c.       Model Abdul al-Latif Muhammad al-Asyr
Beliau telah menulis buku yang berjudul al-fikriyah li madzhab ahl al-sunnah yang membahas tentang pokok-pokok yang menyebabkan timbulnya perbedaan pendapat dikalangan umat islam, masalah mantiq dan filsafah, barunya alam, sifat-sifat yang melekat pada Allah Azza wa jalla,nama-nam tuhan, keadilan tuhan, penetapan kenabian, mu’jizat dan karomah, Rukun Islam, iman dan islam, taklif (beban) Al-samiyat (wahyu atau dalil naql) Al-imamah, serta ijtihad dalam hukum agama[7].
d.      Model Harun Nasution
Beliau dikenal sebagai guru besar filsafat dan teologi banyak mencurahkan perhatiannya pada penelitian dibidang teologi islam (Ilmu Kalam). Salah satu hasil penelitiannya adalah buku fi Ilm al-Kalam (teologi islam).dalam buku tersebut selain dikemukakan tentang sejarah timbulnya persoalan-persaoalan teologi dalam islam,juga dikemukakan tentang berbagai aliran telogi islam lengkap dengan tokoh-tokoh dan pemikirannya.
Dari berbagai penelitian yan sifatnya lanjutan tersebut, dapat diketahui model penlitian yang dilakukan dengan menggunakan ciri-ciri sebagaim berikut:
Pertama : Penelitian tersebut termasuk penelitian kepustakaan berbagai sumber ruujukan bidang teologi islam. Kedua : Bercorak deskriptif yaitu kesungguhannya dalam mendeskripsikan  data selengkapkan mungkin. Ketiga : Menggunakan pendekatan histories, mengkaji masalah, teologi berdasarkan data sejarah yang ada,melihatnya sesuai konteks waktu yang bersangkutan, Keempat : Menggunakan analisis doktrin juga analisis perbandingan. mengemukakan isi doktrin ajaran perbandingan dengan mengemukakan isi doktrin ajaran dari masing-masing aliran
B.     Studi Tasawuf
1.      Pengertian Tashawuf
Dari sejumlah bahas terdapat sejumlah bahasa/istilah yang dihubungkan para ahli untuk menjelaskan tentang tasawuf. Harun Nasution misalnya, ia menyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu Al-Suffah (orang yang ikut pindah dengan nabi dari Mekkah ke Madinah). Saf (barisan), Sufi (suci), Sophos (bahasa Yunani: hikmah) dan Suf (kain wol).[8] Keseluruhan kata ini bisa saja dihubungkan dengan tasawuf. Yakni kata al-Suffah (orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah) misalnya menggambarkan keadaan orang yang rela mencurahkan jiwa raganya/harta benda semata-mata karena Allah. Mereka rela meninggalkan semuanya di Mekkah untuk hijrah bersama Nabi ke Madinah. Selanjutnya kata Saf (menggambarkan orang yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah dan melakukan kebajikan) demikian pula kata Sufi (suci) menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan kata Sophos (hikmah) menggambarkan keadaan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran.[9]
Dari segi bahas dapat segera dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebahagiaan dan selalu bersikap bijaksana, sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah Ahlak yang mulia.
Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantung kepada sudut pandang yang digunakan masing-masing. Selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf yakni sudut pandang manusia sebagai mahluk terbatas, manusia seabgai mahluk yang harus berjuang dan manusia sebagai mahluk bertuhan.[10]
Pada intinya tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin ahlak yang mulia dan dekat dengan Allah Swt. Inilah esensi atau hakikat tasawuf itu sendiri.
2.      Metodologi Studi Tasawuf
Metode penelitian tasawuf, cukup mempergunakan metode penelitian ilmu-ilmu sosial, terutama analisis kesejarahan dan pendekatan phenomenologi (verstehen). Pendekatan verstehen yang berusaha untuk mengerti sesuai dengan k eadaan objek, artinya agar sang objek itu yang mengenal/mengerti dirinya sendiri, tugas peneliti semata-mata merekam apa yang dirasakan, dipikirkan, dipahami dan diungkapkan oleh sang objek.[11]
Peneliti tasawuf pada umumnya mempergunakan studi  kasus dan mempergunakan pendekatan fenomenologis atau verstehen. Maka syarat muthlak bagi peneliti harus menguasai persoalan-persoalan tasawuf yamg cukup lumayan. Sarat utama bagi peneliti tasawuf adalah
a.      Peneliti tasawuf harus menguasai istilah-istilah atau bahasa sufisme.
b.      Peneliti mempunyai pandangan yang terang tentang apa tasawuf itu dan bagaimana kaitannya dengan ajaran Islam.[12]
3.      Model-model Penelitian Tashawuf
Sejalan dengan fungsi dan peran tashawuf yang demikian itu, di kalangan para ahli telah timbul upaya untuk melakukan penelitian tashawuf. Berbagai bentuk dan model penelitian tashawuf secara ringkas dapat di kemukakan sbb:

a.       Model Sayyed Husein Nasr[13]
Hasil penelitiannya dalam bidang tashawuf ia sajikan dalam bukunya berjudul tashawuf dulu dan sekarang. Di dalam buku tersebut di sajikan hasil penelitiannya di bidang tashawuf dengan menggunakan pendekatan tematik, yaitu pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran tashawuf sesuai dengan tema-tema tertentu. Di antaranya uraian tentang fungsi tashawuf, yaitu tashawuf dan pengutuhan manusia.
Dari uraian singkat di atas terlihat bahwa model penelitian tashawuf yang di anjurkan husein nasr adalah penelitian walitatif dengan pendekatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tashawuf yang pernah berkembang dalam sejarah.

b.      Model Mustafa Zahari[14]
Mustafa zahri memutuskan perhatianya terhadap tashawuf dengan menulis buku berjudul kunci memahami ilmu tashawuf. Penelitian yang di lakukannya bersifat eksploratif, yakni menggali ajaran tashawuf dari berbagai literatur ilmu tashawuf. Di sajikan tentang kerohanian di dalamnya di muat tentang contoh kehidupan nabi muhammad SAW., kunci mengenaltuhan , sendi kekuatan batin, fungsi kerohanian dalam menentramkan batin, Tarekat dari segi arti dan tujuannya. Selanjutnya di kemukakan tentang membuka tabir (hijab) yang membatasi diri dengan Tuhan, Dzikrullah, istighfar, dan bertaubat do’a, waliyullah, keramat mengenal diri sebagai cara untuk mengenal tuhan, Makna Laa Ilaaha Illallah, hakekat pengertian tashawuf, catatan sejarah perkembangan tashawuf dan ajaran tentang ma’rifat.

c.       Model Kutsar Azhari Noor
Dalam penelitaiannya Kutsar Azhari Noor, Ibnu Arabi : wahdat al-wujud dalam perdebatan, jakarta 1995.denganjudul tersebut,terlihat bahwa penelitian yang ditempuh Kautsar adalah studi tentang tokoh dengan fahamnya yang khas, Ibnu Arabi dengan fahamnya wahdat al-wujud. Penelitian ini cukup menarik,karena dilihat dari segi faham yang dibawakannya,yaitu wahdat al-wujud telah menimbulkan kontroversi di kalangan para ulama,karena paham tersebut di nilai membawa paham reinkarnasi,atau paham serba Tuhan menjelma dalam berbagi ciptaanNYa,sehingga dap[at mengganggu keberadaan zat Tuhan.wahdat al-wujud yang berarti kesatuan wujud adalah lanjutan dari paham hulul.
Paham wahdat al-wujud  ini timbul dari paham bahwa Allah sebagaimana diterangkan dalam uraian tentang buhul, ingin melihat diri-Nya diluar diri-Nya. Oleh karena itu,dijadikan-Nya alam ini. Maka alam ini merupakan cermin bagi Allah. Dikala ia ingin melihat diri-Nya, ia melihat kepada alam. Pada benda-benda yang ada dalam alam,karena dalam tiap-tiap benda itu terdapat sifat Tuhan. Tuhan melihat diri-Nya. Dari sini timbullah faham kesatuan. Yang ada dalam alam ini terlihat banyak tetapi sebenarnya itu satu. Tak ubahnya hal ini sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakan di sekelilingnya. Di dalam tiap cermin ia lihat dirinya,dalam cermin itu dirinya kelihatan banyak, tetapi dirinya sebenarnya satu.



d.      Model Harun Nasution
Hasil penelitian Harun Nasution dalam bidang thasawuf ia tuangkan antara lain dalam bukunya yang berjudul  falsafah dan mistisisme dalam islam,  jakarta 1973. Penelitiannya dalam bidang thasawuf ini ia menggunakan pendekatan tematik,yakni penyajian ajaran thasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat pada Tuhan,zuhud dan station-station lain, almahabbah,al-ma’rifah,al-fana dan al-baqa ,al-ittihad,alhulul dan wahdat al-wujud. Pada setiap topik tersebut,selain dijelaskan tentang isi ajaran dari tiap topik tersebut dengan data-data yang di dasarkan pada literatur kepustakaan,juga dilengkapi dengan tokoh yang memperkenalkannya. Selain itu Harun Nasution mencoba mengemukakan latar belakang sejarah timbulnya faham tasawuf dalam Islam.

e.       Model A. J. Arberry
Dalam bukunya yang berjudul  pasang surut aliran tasawuf, Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Dengan pendekatan demikian ia mencoba kemukakan tentang firman Tuhan,kehidupan Nabi,para zahid,para sufi,para ahli teori tasawuf,struktur teori tasawuf,struktur teori dan amalan tasawuf,tarikat sufi,teosofi dalam aliran tasawuf,serta runtuhnya aliran tasawuf. Dari isi penelitian tersebut,tampak bahwa Arberry menggunakan analisis kesejarahan,yakni berbagai tema tersebut difahami berdasarkan konteks sejarahnya, dan tidak dilakukan proses aktualisasi nilai atau mentranspormasikan ajaran-ajaran tersebut ke dalam makna kehidupan modern yang lebih luas.

C.     Studi Tarbiyah
1.      Pengertian Studi Tarbiyah
Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan disebut dengan “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa Arab adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “allama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah ”tarbiyah wa ta’lim” sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya adalah ”Tarbiyah Islamiyah”.[15] Kamus bahasa Arab menyebutkan istilah tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu:
a.       Raba-yarbu, yang artinya bertambah dan tumbuh.
b.      Rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa yang berarti menjadi besar.
c.       Rabba-yarubbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu, berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara.
2.      Aspek-aspek Tarbiyyah
                  Pendidikan Islam pada hakikatnya mengandung arti dan peranan yang sangat luas. Arti dan peranan tersebut sejalan dengan aspek-aspek pengembangan menjadi sarana garapan para pendidik Islam mempunyai pengertian yang sama bahwa pendidikan Islam mencakup aspek-aspek:
a.       Pendidikan keagamaan
b.      Pendidikan akliah dan ilmiah
c.       Pendidikan akhlak dan budi pekerti
d.      Pendidikan jasmani dan kesehatan
                  Aspek-aspek ini berperan dalam membimbing pengembangan potensi-potensi yang dimiliki manusia, yakni meliputi:
a.       Pengembangan kognitif, yaitu kemampuan intelektual yang harus dikembangkan melalui pendidikan Islam.
b.      Pengembangan afektif, adalah kekhususan mengembangkan akal melalui pengetahuan dan pemahaman terhadap kenyataan dan kebenaran, manusia harus mengalami proses pengembangan perasaaan dan penghayatan agar menjadi lebih luas.
c.       Pengembangan psikomotorik, adalah ilmu pengetahuan termanifestasi dalam akhlak dan amal saleh.
3.      Model Penelitian Tarbiyyah
                  Dilihat dari segi obyek kajiannya Ilmu Pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama ada pengetahuan ilmu yaitu pengetahuan tentang hal-hal atau obyek-obyek yang empiris, diperoleh dengan melakukan penelitian ilmiah, dan teori-teorinya bersifat logis dan empiris. Pengujian teorinya pun diukur secara logis dan empiris. Bila logis dan empiris, maka teori ilmu itu benar, dan inilah yang selanjutnya disebut science. [16]
                  Kedua, pengetahuan filsafat yaitu pengetahuan tentang obyek-obyek yang abstrak logis, diperoleh dengan berfikir, dan teori-teorinya bersifat logis dan hanya logis (tidak empiris). Kebenaran atau kesalahan teori filsafat hanya diukur dengan logika; bila logis dinilai benar; bila tidak maka salah. Bila logis dan ada bukti empiris, maka teori itu bukan teori filsafat, melainkan teori ilmu (sains).
      Ketiga, pengetahuan mistik yaitu pengetahuan yang obyek-obyeknya tidak bersifat empiris, dan tidak pula terjangkau oleh logika. Obyek pengetahuan ini bersifat abstrak, supra logis. Obyek ini dapat diketahui melalui berbagai cara, misalnya dengan merasakan pengetahuan batin, dengan latihan atau cara lain. Pengetahuan kita tentang yang gaib, diperoleh dengan cara ini.
                  Dari ketiga macam pengetahuan tentang pendidikan Islam tersebut, maka dapat disimpukan bahwa pengetahuan (ilmu) pendidikan Islam terdiri dari pengetahuan filsafat pendidikan, tasawuf (mistik) pendidikan dan ilmu pendidikan. Filsafat dan tasawuf terkadang disebut ilmu, padahal secara akademis keduanya itu bukan ilmu tapi pengetahuan, karena yang disebut ilmu harus bersifat empiris dan memiliki ciri-ciri ilmiah. Dengan demikian jika disebutkan Ilmu Pendidikan Islam, maka cakupannya ialah masalah-masalah yang berada dalam dataran ilmu (sains), yaitu obyek-obyek yang logis dan empiris tentang pendidikan.[17]
                  Pendidikan Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang mendapat banyak perhatian dari para ilmuwan. Berbagai model penelitian yang berkaitan dengan pendidikan Islam telah dilakukan, antara lain sebagai berikut:


a.      Model Penelitian tentang Problema Guru
            Dalam usaha memecahkan problema guru, Himpunan Pendidikan Nasional (National Education Association) di Amerika Serikat pernah mengadakan penelitian tentang problema yang dihadapi guru secara nasional pada tahun 1968.
Prosedur yang dilakukan dalam penelitian tersebut, yaitu dengan pengumpulan data yang dilakukan oleh bagian Himpunan Pendidikan Nasional (National Education Association) melalui survey pendidikan umum guru (opinion survey for teacher) pada musim semi tahun 1966.
Kuesioner yang dibuat terdiri dari tujuh belas macam pertanyaan tentang problema guru yang potensial.  Data yang terkumpul dari kuesioner itu dijadikan landasan analisis. Dengan demikian, penelitian tersebut dari segi metodenya termasuk penelitian survey, yaitu penelitian yang sepenuhnya didasarkan pada data yang dijumpai di lapangan, tanpa didahului oleh kerangka teori, asumsi atau hipotesis.
b.      Model Penelitian tentang Lembaga Penelitian
 memelihara diri, kaum keluarga dari kesengsaraan dan api neraka. Sejak masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia lembaga pernikahan dan keluarga memegang peranan yang penting dalam proses pendidikan Islam.
Kontak pernikahan pedagang dan masyarakat pribumi setempat menjadi semakin meluas dan bukan hanya terjadi dikalangan pedagang saja, tetapi juga terjadi dikalangan penguasa daerah setempat. Dengan kontak pernikahan dan kekeluargaan yang semakin meluas tersebut secara berangsur-angsur komunitas muslim berkembang meluas, baik dalam arti daerah penyebarannya dan komunitas muslim menjadi kekuatan-kekuatan politik.
Pendidikan dalam keluarga tersebut didasari oleh nilai-nilai dan norma-norma, budaya Islam melalui pendidikan dalam keluarga itu suatu generasi menghasilkan generasi berikutnya yang memiliki kualitas yang lebih tinggi. Peranan pendidikan yang sentral tersebut semakin luas memerlukan adanya wadah yang menampungnya. Wadah biasanya untuk menampung adalah masjid atau surau. Kemudian menjadi lembaga pendidikan yang potensial sebagai lembaga pendidikan dasar.[18]
Metode penelitian yang dilakukannya adalah pengamatan (observasi). Sedangkan objek pengamatannya adalah sejumlah pesantren yang ada di Jawa dan Sumatera. Melalui analisis historis yang dipadu dengan pendekatan komparatif, Karel A. Steenbrink menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan Malaysia, maka jelaslah pesantren di Indonesia melalui beberapa pembaharuan tetap berusaha memberikan pendidikan Islam yang juga memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan zamannya. Sistem pondok pesantren di Malaysia bersifat lebih defensif dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan zaman modern.
Pada bagian lain hasil penelitian itu, Steenbrink mengatakan bahwa sejak permulaan tahun 1970-an ternyata beberapa organisasi Islam mengalami depolitisasi, yaitu melepaskan diri dari politik praktis dan politik partai serta lebih mementingkan cita-cita asli sebagai organisasi yang bergerak dibidang dakwah dan pendidikan.
c.       Model Penelitian Zamakhsyari Dhofier
Model penelitian yang dilakukan Zamakhsyari Dhofier masih di sekitar pesantren. Penelitian yang dilakukan berjudul “Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai” yang telah diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982. Model penelitian yang dilakukan ini tidak menyebutkan secara eksplisit tentang latar belakang pemikiran, tujuan, ruang lingkup, metode dan pendekatannya, sebagaimana lazimnya sebuah penelitian. Namun jika dipelajari secara seksama tampak berbagai unsur yang ada dalam penelitian dijumpai dalam masalah ini.
Penelitian ini berdasarkan studi lapangan, yaitu dua buah lembaga pesantren. Kedua pesantren itu adalah pesantren Tegal Sari dan pesantren Tebu Ireng. Pesantren Tegal Sari didirikan pada tahun 1870 di Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Pesantren Tebu Ireng didirikan pada tahun 1899 di Kelurahan Cukir, 8 kilometer sebelah tengggara kota Jombang, Jawa Timur.[19]
Dalam bukunya, Zamakhsyari mengatakan bahwa pada umumnya studi tentang Islam di Jawa selama ini menitikberatkan analisisnya pada segi pendekatan intelektual dan pendekatan teologi sehingga sering memberikan kesimpulan yang meleset. Zamakhsyari berusaha menunjukkan sumbangan pendekatan sosiologis dalam usaha memahami Islam di Jawa secara lebih tepat. Pendekatan sosiologis akan mengurangi kecenderungan menarik kesimpulan yang terlalu cepat.
Dibagian lain Zamakhsyari mengemukakan bahwa penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Akan tetapi, analisis yang dilakukannya tidak dimaksukan untuk menghasilkan proposisi-roposisi teoritis tertentu tentang tradisi pesantren dan paham Islam tradisional di Jawa. Analisis tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa data etnografis yang lebih banyak lagi dan analisis yang lebih imajinatif masih sangat diperlukan untuk dapat lebih memahami masyarakat dan kebudayaan manusia.















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Teologi juga berbicara tentang berbagai masalah yang berkaitan denagn keimanan serta akibat-akibatnya, seperti masalah iman, kufr, musyrik, murtad, masalah kehidupan ahirat denngan berbagai kenikmatan atau penderitaannya. Hal-hal yang berkaitan dengan kallamullah orang-orang yang tidak beriman dan sebagainya, sejalan dengan perkembangan ruang lingkup  pembahasan ilmu ini, maka teologi terkadang dinamai pula ilmu tauhid, ilmu Ushuluddin, ilmu ‘aqaid, dan ilmu ketuhanan. Dinamai ilmu tauhid, karena ilmu ini mengajak orang agar meyakini adn mempercayai hanya pada satu tuhan, yaitu Allah Swt, selanjutnya dinamai Usshuluddin, karena ilmu ini membahas pokok-pokok keagamaan  yaitu keyakinan dan kepercayaan kepada tuhan dinamai pula ilmu ‘aqaid, karena denagn ilmu ini seseorang diharapkanagar meyakini dalam hatinya secara mendalam dan mengikatkan dirinya hanya pada Allah sebagai Tuhan.
Fiqh secara etimologi berarti pemahaman yang mendalam dan membutuhkan pengerahan potensi akal. Sedangkan secara terminologi fiqh merupakan bagian dari syari’ah Islamiyah, yaitu pengetahuan tentang hukum syari’ah Islamiyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat (mukallaf) dan diambil dari dalil yang terinci. Sedangkan menurut Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin mengatakan fiqh adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’I yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dengan dalil-dalil yang tafsili
B.     Saran
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Banyak kekurangan disana-sini untuk itu mohon kiranya para pembaca sekalian mau memberikaan masukan kritik dan saran guna perbaikan dimasa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA
Hakim.  Rosniati,  2009, Metodologi Studi islam II, (Padang: Hyfa press
Nasution. Harun, 1983. Falsafat dan Mistisisme dan Islam Jakarta: Bulan Bintang
Nata.  Abuddin , 1996, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada
_____________, 2009, metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers
http://kumpulanmakalahq.blogspot.com/2011/07/model-penelitian-pendidikan-islam.html


0 komentar:

Poskan Komentar