Selasa, 08 September 2015

PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU



BABI
PENDAHULUAN

                                                      A.    Latar Belakang
Hubungan manusia terhadap yang dianggap adikodrati (supernatural) memang memiliki latar belakang sejarah yang sudah lama dan cukup panjang. Latar belakang ini dapat dilihat dari berbagai pernyataan-pernyataan para ahli yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda, termasuk para agamawan yang mendasarkan pendapatnya pada informasi kitab suci masing-masing.
Untuk memperdalam pengetahuan keagamaan masing-masing manusia, mereka mempunyai jalan yang berbeda-beda, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing keragaman keagamaan, sehingga dari beberapa jalan itu, ada yang mencari dan menelitinya dari segi ke psikologis yang langsung melihat ke dalam jiwa manusia itu sendiri. Dari kajian psikologi itu, seorang yang ahli dapat melihat dan mengetahui segala gejala yang timbul dalam jiwa manusia, terkhusus dalam pengalaman mereka terhadap agama.

Mengingat betapa urgensinya persoalan psikologi dalam kehidupan manusia khususnya dalam dunia pendidikan maka faktor ini mendorong psikologi terus dikaji dan dipelajari oleh banyak orang, guru, pengacara, manajer perusahaan, pembina dan lain sebagainya. Perkembangan psikologi pada akhirnya mencuat dan  melintas lewat pemekaran disiplin, hal ini menjadikan psikologi berhak menjadi psikologi-psikologi praktis yang termasuk di dalamnya adalah psikologi pendidikan dan juga psikologi agama, serta psikologi-psikologi lainnya.
Mempertimbangkan faktor pertama bahwa psikologi agama adalah perangkat utama untuk kegiatan belajar segala gejala keagamaan pada diri manusia. Ilmu pengetahuan sebagai unsur keagamaan, maka kehadiran dan perkembangan sejalan atau seirama dengan tingkat wujud kerja serta proses keagamaan itu selalu hadir dalam aktivitas sehari-hari manusia.

B.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rumusan Masalah
Dari latar belakang dia atas, maka dapat diambil bahwa rumusan maslah penelitian ini adalah:
a.       Apa pengertian psikologi agama?
b.      Apa saja yang menjadi objek kajian psikologi agama?
c.       Apa manfaat mempelajari psikologi agama bagi pendidik?
2.      Batasan Masalah
Dari rumusan masalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembahasan dalam makalah ini dibatasi pada bagian-bagian tertentu saja, yaitu:
a.       Pengertian psikologi agama?
b.      Objek kajian psikologi agama?
c.       Manfaat mempelajari psikologi agama bagi pendidik?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang psikologi agama
2.      Membantu untuk meperdalam pengetahuan yang sudah ada dalam bidang psikologi
3.      Membangun khazanah keilmuan yang lebih luas dan mendalam
4.      Sebagai pelengkap mata kuliah Psikologi Agama.


BAB II
PEMBAHASAN
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU

A.    Pengerian Psikologi Agama
Psikologi berasal dari perkataan Yunani ”Psyche” yang artinya jiwa, dan ”Logos” yang artinya ilmu pengetahuan.[1]Psikologi menurut bahasa dirtikan sebagai “Ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada prilaku: ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa”.[2] Psikologi dalam bahasa Inggris disebut sebagai “psychology” diartikan dengan: “Scientific Study Of The Mine and How It Influences Behaviour”.[3] Secara etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.[4]Kondisi psikologi adalah kondisi yang dapat diamati, dicatat dan diukur.
Namun  pengertian  antara  ilmu  jiwa  dan psikologi  sebenarnya berbeda atau tidak sama (menurut Gerungan) karena :
Ø  Ilmu  jiwa  adalah  :  ilmu  jiwa  secara  luas  termasuk  khalayan  dan spekulasi tentang jiwa itu.
Ø  Ilmu  psikologi  adalah  ilmu  pengetahuan  mengenai  jiwa  yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah.[5]

Dalam lapangan ilmu pengetahuan, psikologi merupakan salah satu pengetahuan yang tergolong dalam “empirikal science” yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman manusia,[6] walaupun pada awal perkembangannya bersumber pada filsafat yang bersifat spekulatif.
Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa yang normal, dewasa, dan beradab.[7]Psikologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia dengan cara mengkaji sisi perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan bahwa setiap perilaku manusia berkaitan dengan latar belakang kejiwaannya.[8]Psikologi secara etimologi mengandung arti ilmu tentang jiwa.
Dalam Islam kata jiwa disamakan dengan“an-nafsu” namun ada juga yang menyamakan dengan istilah “ar-ruh”. Tetapi istilah “an-nafsu” lebih popular dari pada istilah “ar-ruh”,  karena psikologi dalam bahasa arab lebih popular diterjemahkan dengan ilmu an-nafsu dari pada ilmu ar-ruh. Dalam Al-Quran surat Al-Fajrayat 27-30 disebutkan, kata an-nafsu berarti jiwa.
يَٰٓأَيَّتُهَاٱلنَّفۡسُٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧  ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ٢٩  وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي ٣٠
Artinya:
27.  Hai jiwa yang tenang
28.  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
29.  Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku
30.  masuklah ke dalam surga-Ku

Psikologi agama menurut Jalaludin menggunakan dua kata, yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.[9]
Psikologi menurut Zakiah Darajat, meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara orang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.[10]
Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelaahan tersebut merupakan kajian empiris. 
B.     Objek Kajian Psikologi Agama
Psikologi agama tidak menyelidiki tentang ajaran-ajaran secara meteriil, dasar-dasar agama dan tidak berwenang untuk membenarkan atau menyalahkan pengertian yang ada dalam agama. Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala-gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduanya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience).
Menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian Psikologi Agama meliputi kajian mengenai:
1.      Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan bersama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram sehabis sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah, dan menyerah serta berzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2.      Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenang dan kelegaan hati.
3.      Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.      Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinnya.[11]
Kesadaran agama adalah bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat dilihat gejalanya melalui introspeksi. Di samping itu, dapat dikatakan bahwa kesadaran beragama adalah aspek mental atau aktivitas agama, sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dan kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakah (amaliah).
Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala-gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.
C.    Manfaat Mempelajari Psikologi Agama Bagi Pendidik
Dalam dunia pendidikan, siswa adalah keragaman individu yang mesti dipahami, dan dimengerti, serta dibimbing sesuai kompetensi dan kemampuan dasarnya, pada dasarnya, kondisi keagamaan setiap peserta didik tidaklah sama, tergantung latar belakang masing-masing, baik dari segi keluarga, daerah, dan adat istiadat. Maka untuk menjawab itu semua, serta dapat menjalankan fungsi pendidik yang sesungguhnya, maka psikologi agama sangat dibutuhkan perannya, agar seorang pendidik mempunyai panduan yang mendasar untuk membimbing siswa dengan latar belakang keagamaan yang beragam tadi,
Kehadiran Psikologi Agama dipenuhi dengan suatu misi besar. Yaitu menyelamatkan manusia dan mengantarkan manusia untuk memenuhi kecenderungan alaminya untuk kembali pada Allah dan mendapatkan ridha Allah SWT. Karena tugas final psikologi agama itu menyelamatkan manusia, maka psikologi harus memanfaatkan ajaran-ajaran agama.[12]
Mengenai untuk siapa psikologi ini akan dimanfaatkan, maka kami berpandangan bahwa psikologi Islam adalah suatu disiplin ilmu yang universal yang dapat diterapkan untuk semua manusia. Pengembangan psikologi Islam tidak terlepas dari apa yang kita sebut sebagai tugas kekhalifahan manusia, yaitu rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin). Tujuan pengembangan psikologi Islam pada ujung-ujungnya adalah memecahkan problem dan mengembangkan potensi individu alam memahami pola hidup mereka.
Dengan demikian walau dasar utama pengembangan psikologi Islam adalah al-quran dan al-hadis sehingga ada kesan hanya untuk umat Islam namun arah dari usaha ini adalah meningkatkan kesejahtraan umat manusia.
Setelah mengetahui ruanglingkup dan dasar-dasar psikologi agama, maka marilah kita belajar memahami tugas dari psikologi agama yaitu memprediksi prilaku manusia, mengontrol, dan mengarahkan prilaku itu.
Lebih dari itu, psikologi agama memiliki tugas yang berfungsi untuk menerangkan, memprediksi, mengontrol, dan terutama mengarahkan manusia untuk mencapai ridhonya.
Dengan demikian kehadiran psikologi agama dipenuhi dengan suatu misi besar. Yaitu menyelamatkan manusia dan mengantarkan manusia untuk memenuhi kecendrungan alaminya untuk kembali padanya dan mendapatkan ridhanya. Karena tugas final psikologi agama itu menyelamatkan manusia, maka psikologi harus memanfaatkan ajaran-ajaran agama.[13]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Psikologi agama menurut Jalaludin menggunakan dua kata, yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.
Psikologi menurut Zakiah Darajat, meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara orang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Kemudian yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala-gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya
Psikologi agama sangat dibutuhkan perannya, agar seorang pendidik mempunyai panduan yang mendasar untuk membimbing siswa dengan latar belakang keagamaan yang beragam.
B.     Saran
Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi Khasanah Keilmuan dan perbaikan kedepannya, agar kekeliruan dan kesalahan pada tulisan ini dapat diperbaiki untuk penyempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. Abu,2007. Psikologi Sosial.Jakarta : PT Rineka Cipta.  
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Faizah dan lalu Muchsin Efendi, 2009. Psikologi Dakwah. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Jalaluddin. 2010. Psikologi Agama. Bandung : PT. Raja garafindo Persada.
Marliany. Rosleny,2010. Psikologi Umum. Bandung : CV Pustaka Setia. 
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University Prss.
Sosiawan. Edwi Arief, tanpa tahun.Psikologi Sosial. Artikel Non Publikasi
Ramayulis, Psikologi Agama, 2004, Jakarta: Kalam Mulia 
Suroso. Djamaludin Ancok Fuat Nashori, 1994,Psikologi Islami Solusi Islam Atas Problem-problem Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar


5 komentar:

  1. Menarik sekali ilmu Psikologi memang tidak ada masa kaaluarsanya, malah makin banyak dicari dan makin dibutuhkan jasa seperti Biro Psikologi di Yogyakarta.

    BalasHapus
  2. pak ,bagaimana cara mendownloadnya ,terimah kasih


    BalasHapus
  3. maaf kepada yang punya blog harap kusor mause y di ganti..


    terimakasih

    BalasHapus
  4. ia ganti ding kusor mousenya

    BalasHapus
  5. assalamualaikum kak izin mengcopy yah untuk kebutuhan tugas agama saya. trimakasih

    BalasHapus