Minggu, 21 Agustus 2016

POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latang Belakang
Ilmu sejarah merupakan bagian dari berbagai cabang ilmu yang dipelajari oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi umat manusia. Ilmu sejarah senantiasa menarik minat banyak orang. Orang-orang biasa dan orang-orang yang tidak pintar juga ingin mengetahuinya. Para raja dan penguasa berlomba-=lomba mempelajarinya. Dalam
memahaminya secara lahiriah, sama antara orang- orang pintar dan orang- orang bomdoh. Hal itu karena dilihat dari segi lahiriah, sejarah tidak lebih dari berita tentang peristiwa-peristiwa masa lalu.[1]
Rasulullah SAW, sebagai suri tauladan dan rahmatan lil’alamin bagi orang yang mengharapkan rahmat dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah (al-ahzaab : 21) adalah pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan Islam. Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spitualisme dan bimbingan emosional yang dilakukan Rasulullah dapat dikatakan sebagai mukjizat luar biasa, yang manusia apa dan dimana pun tidak dapat melakukan hal yang sama.
Hasil pendidikan Islam periode Rasulullah terlihat dari kemampuan murid-muridnya (para sahabat) yang luar biasa, misalnya : umat ibn Khotab ahli hukum dan pemerintahan, Abu Hurairah Ahli Hadis, Salman al-Farisi ahli Perbandingan Agama : Majusi, Yahudi, Nasrani dan Islam dan Ali ibn Abi Thalib ahli hukum dan tafsir al-Qur’an, kemudian muri dari para sahabat dikemudian hari, tabi’-tabi’in, banyak yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan sains, teknologi, astronomi, filsafat yang mengantarkan Islam pintu gerbang zaman keemasan. Hanya periode Rasulullah, fase Makkah dan Fase Madinah. Gambaran dan pola pendidikan Islam diperiode Rasulullah SAW di Makkah dan Madinah adalah sejarah masa lalu yang perlu kita ungkapkan kembali, sebagai bahan perbandingan, sumber gagasan, gambaran strategi mensukseskan pelaksanaan proses pendidikan Islam. Pola pendidikan dimasa Rasulullah SAW, tidak terlepas dari metode, evaluasi, materi, kurikulum, pendidikan, peserta didik. Lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoristis maupun praktis.
B.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan segenap permasalahan yang akan dibahas dalam suatu tulisan, rumusan masalahnya adalah:
a.       Bagaimana Perjalanan Pendidikan Islam Priode rasulullah di Makkah?
b.      Seperti apa Tahapan Pendidikan Islam di Madinah?
c.       Apa saja Lembaga Pendidikan dan Sistem Pembelajaran?
d.      Apa Materi dan Kurikulum Pendidikan Islam?, dan
e.       Bagaimana Metode Pengajaran Pendidikan Rasulullah?
2.      Batasan Masalah
Batasan masalah adalah batasan pembahasan dalam suatu tulisan, dianggap penting supaya tulisan tidak menyebar dan membahas yang tidak penting, adapun batasan masalahnya adalah:
a.       Perjalanan Pendidikan Islam Priode rasulullah di Makkah
b.      Tahapan Pendidikan Islam di Madinah
c.       Lembaga Pendidikan dan Sistem Pembelajaran
d.      Materi dan Kurikulum Pendidikan Islam
e.       Metode Pengajaran Pendidikan Rasulullah


BAB II
PEMBAHASAN
POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH

A.    Perjalanan Pendidikan Islam Priode Rasulullah di Makkah
Pola merupakan sistem; cara kerja,[2] Pola pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikannya kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini penulis membaginya kepada dua tahap:
1.         Tahap Pendidikan Islam secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revelation) al-Qur’an surat 96 ayat 5, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosial politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik istrinya, Khadijah untuk beriman kepada dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali Ibn Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar Siddiq. Secara beransur-ansur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas dikalangan keluarga dekat dari suku Qurays saja seperti Usman ibn Affan, Zubair ibn Awan, Sa’ad ibn Abi waqas, Bdurrahman ibn Auf, Thalhah ibn ubaidillah, Abu Ubaidillah ibn Jahrah, Arqam ibn Arqam, Fatimah binti Khattab, Said ibn Zaid, dan beberapa orang lainnya, mereka semua tahap awal ini disebut Assabiquna al awwalun, artinya orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah Arqam ibn Arqam.[3]


2.         Tahap Pendidikan Islam Secara Terang-terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun, sampai turun waktu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan.[4] Ketika wahyu tersebut turu, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul dibukt Shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras dikemudian hari (hari kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, Celakalah kamu Muhammad ! untuk inikah kami mengumpulkan kami ?. saat itu turun wahyu menjelaskan perihal Abu Lahab dan Isterinya.[5]
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Disamping itu, keberadaan rumah Arqam ibn Arqam sebagai pusat dan lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh Kuffar Qrays.

B.     Tahapan Pendidikan Islam di Madinah
Kedatangan Nabi Muhammad Saw bersama kaum muslimin Makkah, disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman Para penguasa Quraisy Makkah, lingkungan yang da`wahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wahyu secara beruntun selama periode Madinah kebijaksanaan Nabi Muhammad Saw dalam mengajarkan al-Quran adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-Quran sebagaimana diajarkannya. Beliau sering mengadakan ulangan-ulangan dalam pembacaan al-Quran dalam salat, dalam pidato-pidato, dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain kesempatan.
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijra ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid. Setelah selesai pembangunan masjid, maka nabi Muhammad Saw pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya. Demikian pula di antara kaum Muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun tempat tinggalnya sendiri.
Masjid itulah pusat kegiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersama-sama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid dan memcerminkan persatuan dan kesatuan umat. Dimasjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjemaah, membacakan al-Quran, maupun membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian masjid itu merupakan pusat pendidikan dan pengajaran.
Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyari`atkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat Jumat yang dilaksanakan secara berjemaah dan adzan. Dengan shalat Jumat tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengar khutbah dari nabi Muhammad Saw dan shalat Jumat berjemaah.[6]


C.    Lembaga Pendidikan dan Sistem Pembelajaran
Lembaga pendidikan Islam pada fase Makkah ada dua macam/tempat, yaitu: rumah Arqam ibn Arqam dan Kuttab[7]. Rumah Arqam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.[8]
Kuttab, Pendidikan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakandi rumah Arqam ibn Arqam, pendidikan di rumah Arqam ibn Arqam kandungan materi tentang hukum Islam dan Dasar –dasar agama Islam , sedangkan pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi tulis baca sastra, syair arab dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi tulis baca al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Adapun guru yang mengajar di Kuttab pada era awal Islam adalah orang-orang non Islam. Dalam sejarah pendidikan Islam istilah kuttab telah dikenal dikalangan bangsa arab pra Islam, secara etimologi kuttab berasal dari bahasa Arab yakni kataba, yaktubu, kitaaban yang artinya telah menulis, sedang menulis dan tulisan sedangkan maktab artinya meja atau tempat menulis
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah, salah satu program pertama yang beliau dilakukan adalah pembangunan sebuah masjid,[9] meskipun demikian, eksistensi kuttab sebagai lembaga pendidikan di Makkah tetap dimanfaatkan setelah hijrah ke Madinah.[10] Bahkan materi dan penyajiannya dikembangkan seiring dengan semakin banyaknya wahyu yang diterima Rasulullah.
Selain masjid, di Madinah, ada juga lembaga pendidikan yang disebut dengan Suffah, suffah adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk tempat pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin,[11] pada masa itu, setidaknya telah ada Sembilan suffah, yang tersebar di Kota Madinah, salah satu di antaranya berlokasi di samping masjid Nabawi. Rasulullah mengangkat Ubait bin al-Samit sebagai guru pada suffah di Madinah.[12]

D.    Materi dan Kurikulum Pendidikan Islam
Salah satu komponen operasionalpendidikan Islam adalah kurikulum, ia mengandung materi yang diajarkan secara sistematis dengan tujuan yang telah ditetapkan[13] pada priode Makkah, denga turunnya perintah kepada nabi Muhammad supaya mengajarkan ajaran agama Islam kepada para kerabat dekat Nabi dan kepada ummatnya secara luas, dan terang-terangan, maka nabi bukan hanya berdakwah di lingkunga keluarga dikalangan penduduk Makkah saja, tetapi juga penduduk di luar Makkah.[14] Adapun materi yang diajarkan adalah:
1.      Tauhid[15]
Tugas Muhammad untuk memancarkan sinar Tauhid adalah konsep utama dalam mengajarkan agama Islam, dengan mengenalkan Allah kepada bangsa Arab, maka dengan itu pula lah jalan rasulullah untuk mamasukkan ajaran selanjutnya. Materi ketuhanan pada priode ini adalah materi utama Rasulullah disebabkab pada saat itu bangsa Arab mempunyai tuhan yang berbeda-beda dan beragam, seperti bertuhankan Berhala, Api, dan lain-lain, maka materi tauhid ini menjadi bagian utama rasulullah pada priode Makkah tersebut.
Materi keimanan yang menjadi pokok pertama adalah iman kepada Allah Yang Maha Esa, beriman bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah, diwahyukan kepada (nya) Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pengajaran bagi umat manusia.[16]
2.      Al-Qur’an
Selain materi Tauhid, rasulullah juga mengajarkan Al-Qur’an kepada kaum muslimin. Pada materi ini, Nabi Muhammad selalu menganjurkan kepada para sahabat supaya Al-Qur’an di hafal dan selalu dibaca, dan diwajibkan membacanya dan ayat-ayat dalam shalat, sehingga kebiasaan membaca Qur’an tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari,[17]
Zuhairini, Dkk.[18] Menyimpulkan bahwa materi yang diajarkan rasulullah pada priode Makkah ini adalah Materi yang mencakup dengan keimanan, dan Al-qur,an sebagai sumber hokum dan tuntunan kehidupan kaum muslimin.
Selanjutnya, materi yang diajarkan Rasulullah Pada priode Madinah adalah:
1.      Memperdalam dan memperluas materi yang telah diajarkan di Makkah, yang memuat hafalan dan penulisan Qur’an, pematangan ketauhidan umat, tulis baca Qur’an, sastra Arab.
2.      Ketertiban, social, ekonomi, politik, dan kesejahtraan umat, yang juga termuat di dalmnya, kesejahtraan keluarga, dan seluruh aspek ajaran Islam.[19]
E.     Metode Pengajaran Pendidikan Rasulullah
Metode diartikan sebagai: cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[20] Metode “Method” 1 way of doing; 2 quality of being well planned and organized.[21] Atau cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”.[22]
Untuk menciptakan suasana kondusif dan menyenangkan dalam mengeajar para sahabatnya, Rasulullah SAW. menggunakan berbagai maca metode. Hal itu dilakukan untuk menghindarkan kebosanan dan kejenuhan siswa. Di antara metode yang diterapkan Rasulullah adalah (1) metode ceramah, (2) dialog, misalnya dialog antara Rasulullah dengan Muaz ibn Jabal ketika Muaz akan diutus sebagai Qadi ke Negeri Yaman, (3) tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hokum dan Rasulullah menjawabnya,[23] (4) metode diskusi, misalnya diskusi antara Rasulullah dan para sahabatnya tentang hukuman yang akan diberikan kepada tawanan perang badar, (5) metode demonstrasi, misalnya hadits Rasulullah Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat, (6) metode eksprimen, metode sosiodrama, dan bermain peranan.[24]




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pola pendidikan Islam periode Rasulullah Saw fase makkah-Madinah belum semuanya penulis buisa termuat dalam makalah. Paling tidak dari pembahasan tersebut akan ditemukan benang merah bahwa pola pendidikan fase Makkah dan Madinah memiliki persamaan dan perbedaan, fase Makkah ada dua lembaga pendidikan yaitu rumah Arqam ibn Arqam dan Kuttab, sedangkan di Madinah lembaga pendidikan rumah para sahabat dan Masjid yang multi fungsi
Materi pendidikan di madinah adalah sebagai berikut:
1.      Pendidikan ukhwah (persaudaraan) antara kaum muslimimin
2.      Pendidikan kesejahteraan sosial
3.      Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat
4.      Pendidikan hamkam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam
Kuriukulum yang dipakai Makkah dan Madinah adalah sama yaitu al-Quran yang dijelaskan dengan hadis nabi Muhammad Saw yang diturunkan secara berangsur-angsur, hanya kurikulum di Madinah lebih komplit, seirama dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.

B.     Saran
Untuk khazanah keilmuan, keritik dan saran sangat diharapkan penulis unntuk kebaikan tulisan makalah di masa mendatang.




DAFTAR PUSTAKA
al-Mubarokfury. Sofiurrahman, 2008, al-Rahiqul al-Makhtum, Lebanon : Dar al-Fikri
Depertemen Agama, Qur’an dan Terjamahnya, Surakarta: CV Al-Hanan
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,
Haekal, 1972, Sejarah Hidup Muhammad, Penrj. Ali Audah. Jakarta : Balai Pustaka,
Khaldun. Ibn, 2001, Mukaddimah Ibn Khaldun, Jakarta: Al-Kautsar,
Nizar. Samsul, 2007, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana
Oxfort University, 2008, Oxfort Learners Pocket Dictionary, Oxfort University Prss
Qomar. Mijammil, t.th., Epistemologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, Jakarta : Penerbit Erlangga
Ramayulis, 1990, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia
Ramayulis, 2011, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia 
Zuhairini dkk, 1997, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Buni Aksara


1 komentar:

  1. lihat juga blog saya mas:
    http://www.ruangwacana.com/2017/05/pertemuan-hellenisme-dengan-peradaban.html

    BalasHapus